Konser Zentuary Dewa Bujana, Siratkan Keselarasan Hubungan Manusia dan Alam

Konser Zentuary Dewa Bujana, Siratkan Keselarasan Hubungan Manusia dan Alam

Sekitar 2500 penonton tampak tumpah ruah memadati arena pertunjukan konser ‘Zentuary Dewa Bujana’ yang digelar di Taman Tebing Breksi Yogyakarta, Jum’at malam, 25 November 2016. Meski hujan mengguyur tak menyurutkan para pecinta musik Indonesia untuk menyaksikan kepiawaian gitaris yang pernah bergabung di Spirit Band dan kini di Band Gigi ini. Sebuah konser yang menyiratkan keselarasan hubungan manusia dan alam.

Konser ini melibatkan sejumlah musisi lain, seperti Marthin Siahaan, Shadu Rasyidi, Irsa Deswiti, Demaz Narawangsa, Jalu Pratidina, Regu Danna, Sruti Respati, Asterika Widiantini dan para musisi lokal Yogyakarta; Singgih Sanjaya String Antrean, dan Anon Suneko Omah Gamelan.

Kawasan Yogyakarta memang diguyur hujan sejak sore hingga pukul 20.00 WIB. Konser pun diundur sekitar 45 menit dari jadwal yang telah ditentukan. “Karena konser ini memang dipersembahkan untuk alam, maka hujan yang turun kita pandang bagian dari sambutan alam. Buktinya ketika konser akan berlangsung hujan reda dan konser bisa berjalan sukses,” papar ujar Deasy Miranti, promotor musik dari Lemmon ID yang menggelar konser ini.

Konser yang dimaksudkan sebagai promo album 10 gitaris band Gigi ini dihadiri musisi kolega Dewa Bujana, seperti Dwiki Dharmawan, Toh Pati, Eros Sheila On Seven, Baron, Joko Pekik dan puluhan seniman perupa Indonesia. “Saya senang konser kali ini banyak didukung teman-teman,” ungkap Bujana bangga.

Konser menampilkan tidak kurang dari 13 instrumen karya terbaik Dewa Bujana. Beberapa karya yang ditampilkan merupakan lagu-lagu yang terhimpun dalam album Zentuary. Diantaranya Solas PM, Manhattan Temple, Lake Takengon, Dedariku, On The Way Home. “Mudah-mudahan sahabat semua bisa menikmati konser kali ini,” kata Dewa Bujana.

Tepat pukul 23.00 WIB konser pun usai. Ditutup dengan musik Surya Namaskar yang sahdu. Malam itu kabut pun turun menyelimuti kawasan Taman Tebing Breksi Yogyakarta. Semakin menegaskan akan keselarasan hubungan manusia dan alam. (Akhmad Sekhu/ Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts