Haru Biru Christine Hakim Bintangi Film “Ibu Maafkan Aku”

Haru Biru Christine Hakim Bintangi Film “Ibu Maafkan Aku”

Membintangi sebuah film yang dekat dengan keseharian memang mengharukan. Apalagi berkaitan erat dengan pengalaman pribadi. Demikian yang dirasakan Christine Hakim tampak begitu mengharu biru membintangi Film “Ibu Maafkan Aku”. Bahkan saat membaca skrip film ini Christine yang masih memiliki ibu itu pun mengaku langsung menangis.

“Ketika saya baca skrip film ini saya langsung menangis. Karena saya berperan sebagai wanita tukang batu dan saat itu saya teringat perjuangan ibu saya ketika membesarkan anak-anaknya,” ungkap Christine Hakim di acara lauching trailer serta poster dan original soundtract film “Ibu Maafkan Aku” di Djakarta Theater XXI, Selasa (25/10/2016).

Lebih lanjut, perempuan kelahiran Kuala Tungkal, Jambi, 25 Desember 1956 ini menerangkan, perasaan senada juga dirasakan ibunya saat membaca skrip film drama tersebut. “Dan baru kali ini saya berikan skrip film ke pada ibu saya. Biasanya enggak pernah. Tapi dalam hal ini saya enggak berharap hanya menjual ratapan,” terang Christine.

Menurut Christine, film tentang ibu penting untuk zaman sekarang. “Kita tahu bahwa perilaku anak zaman sekarang cenderung melupakan jasa seorang ibu. Film ini mengajak para anak-anak untuk lebih menghormati surga kalian, yakni ibu,” ungkapnya.

Christine berharap film ini bisa menjadi syiar bagi masyarakat. “Gak cuma islam yang mengajarkan untuk hormati ibu, semua agama memerintahkan untuk hormat terhadap ibu,” pungkasnya.

Film yang awalnya berjudul ‘surga yang terluka’ ini berkisah tentang seorang wanita bernama Hartini (Christine Hakim) yang memiliki tiga anak bernama Banyu, Gendis dan Satrio. Sepeninggal suaminya Hartini harus berjuang keras membesarkan ketiga anaknya sebagai pemecah batu kali. Ia berharap kelak ketiga anaknya bisa meraih sukses dan tidak hidup kekurangan sebagaimana yang dialaminya.

Sebagai anak sulung laki-laki, Banyu tumbuh menjadi pemimpin dalam keluarga. Sikapnya yang dominan seringkali menimbulkan konflik dengan adiknya Gendis. Terlebih ketika Gendis mulai mengenal seseorang yang dicintainya yakni Panji. Konflik demi konflik mulai menghiasi hari-hari keluarga ini.

Film yang turut dibintangi Ade Firman Hakim, Meriza Febriani, Marcelino Wibowo dan Marwoto ini mengambil latar setting lokasi di Gunung Kidul, Yogyakarta. Tak hanya mengeksplore keindahan alam di sana yang masih sangat asri tetapi film ini juga berupaya menonjolkan unsur budaya seni, seperti di antaranya jatilan. Film ini akan tayang di bioskop tanah air pada 10 November 2016. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts