Novel “Setelah 17 Tahun” Sumbangan untuk Memahami Dunia Psikologi

Novel “Setelah 17 Tahun” Sumbangan untuk Memahami Dunia Psikologi

Biasanya sebuah peluncurkan novel sastra selalu menghadirkan para pakar sastra yang membedah novelnya dengan ilmu kesusastraan. Tapi di peluncuran novel “Setelah 17 Tahun” karya Noorca M. Massardi menghadirkan psikolog Joice Manurung yang mengupas novel tersebut dengan ilmu psikologi, terutama mengenai dampak verbal abuse yang ternyata sangat berbahaya. Dalam novel terbitan Gramedia Pustaka Utama yang diilhami kisah nyata ini berkisah tentang drama psikologis rumah tangga, dimana para tokohnya mengalami trauma dan terbelenggu kepahitan masa silam. Demi anak-anak dan keluarga, akhirnya mereka harus mengambil langkah dan keputusan yang berani. Masa lalu tidak berlalu. Ia di depan dan selalu. Masa lalu tidak berlalu. Ia diburu atau memburu. Sebuah novel aspiratif yang memberi sumbangan berarti untuk memahami dunia psikologi.

“Novel ini bahasanya ringan dan mudah dipahami. Membaca novel ini, kita dapat pelajaran berharga mengenai dampak verbal abuse yang ternyata sangat berbahaya,” kata Joice Manurung dalam acara Bincang & Berbagai Peluncuran Novel ‘Setelah 17 Tahun’ karya Noorca M. Massardi di Midtown Bistro & Lounge, SCBD, Jakarta, Sabtu (17/9/2016).

Lebih lanjut, Joice mengingatkan agar hati-hati dan waspada dengan verbal abuse yang seringkali dilakukan masyarakat kita pada umumnya. “Para abuser itu tidak mengaku kalau mereka melakukan verbal abuse. Dalihnya mereka hanya bercanda, tapi secara tidak sadar melukai banyak orang, “ ungkapnya.

Dalam sesi tanya-jawab yang dipandu Heryus Saputro, ini di antaranya, ada Teguh Esha, novelis legendaris dengan karya ‘Ali Topan Anak Jalanan’ ini yang mengakui bagus sekali pembahasan novel dari ilmu psikologi. “Bgusnya nanti Bu Joice menulis pembahasan dalam bentuk buku tersendiri untuk mendampingi novel ini, “ sarannya.

Novel ini berkisah tentang trauma akibat kekerasan verbal sejak kecil di keluarganya yang dialami Putri Maulida. Demi meraih kebebasan, ia menerima lamaran Al¬an, seniornya yang tengah melanjutkan studinya di Prancis. Putri, mahasiswi cerdas yang sangat aktif dalam pelbagai kegiatan dan diskusi di kampusnya, tiba-tiba harus menjadi ibu rumah tangga, yang wajib berbakti kepada suami. “demi mendapat rida Allah SWT.” Tapi setelah dikaruniai tiga anak, ia tak mampu lagi menghadapi kekerasan verbal Al¬an, baik terhadap dirinya maupun terhadap ketiga ketiga anak mereka.

Setelah 17 tahun menderita, Putri menggugat cerai, dan kuliah lagi hingga menjadi notaris sukses. Ia kemudian bertemu kembali dengan Andri, teman kampusnya dulu. Setelah 17 tahun tak pernah berkomunikasi, Andri, duda lawyer beranak dua, yang ternyata “pengagum rahasia” Putri, selalu merekam dan mengungkapkan pelbagai hal tentang perempuan pujaannya itu di dalam catatan hariannya.

Sebuah novel yang berarti kisah tentang manusia memang selalu merupakan kisah mengenai psikologi manusia. Novel yang berhasil adalah novel yang selalu gigih menemukan cara menggambarkannya. Noorca mampu menghadirkan Putri dalam novel novel “Setelah 17 Tahun” dengan segala problematika hidupnya yang begitu kompleks. Berbeda dengan novel-novel sebelumnya, novel ini diangkat dari kisah nyata kedua tokoh utamanya. Melalui novel ini, suami dari penulis Rayni N. Massardi, ini ingin berbagi ihwal kepedihan dan derita seorang perempuan di tengah keluarganya, dan kemudian di dalam rumah tangganya, mengalami kekerasan verbal berkelanjutan. Pewarta, penulis drama dan skenario film, yang mengawali kariernya sebagai penulis lakon/aktor/sutradara Teater Lisendra, di Jakarta, ini memang piawai berkisah. Novel ini menjadi bukti kematangan karyanya. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts