Film Forgiveness dari Lebanon Memenangi Festival Film Perdamaian di Jakarta

Film Forgiveness dari Lebanon Memenangi Festival Film Perdamaian di Jakarta

Film Forgiveness asal Lebanon memenangi festival film perdamaian “International Film Festival for Peace, Inspiration and Equality (IFFPIE) dan World Humanitarian Awards (WHA)” yang digelar di Jakarta. Film arahan Rima Irani ini berkisah tentang seorang wanita muda yang pergi ke psikiater untuk menyembuhkan luka batinnya. Sutradara cantik jelita itu datang langsung dari Lebanon untuk menerima langsung penghargaannya Malam Puncak Penghargaan Festival yang mengusung tema “Environment For Peace and Humanity” dalam rangka merayakan Hari Perdamaian Sedunia dan Hari Kemanusiaan Sedunia yang diadakan di Auditorium Manggala Wanabhakti, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Senin malam, 19 September 2016.

Damien Dematra selaku founder dan director festival perdamaian dan kemanusiaan ini mengatakan, “Terpilihnya film ini Forgiveness sebagai Overall Winner IFFPIE tidak hanya mengukir sejarah baru di festval yang telah berlangsung selama lima tahun ini, bahwa akhirnya kita mempunyai juara perempuan. Namun menunjukkan bahwa film merupakan jembatan terbaik untuk berdamai dengan diri kita,” ungkapnya.

Film pemenang ini kisahnya berpusat pada pikiran seorang perempuan dalam berperang dengan masa lalunya yang berat untuk dapat menang dan memulai hidup baru. Sebuah film eksperimen yang menggabungkan seni lukis di setiap adegan dan menjadikannya representasi pikiran sang perempuan. Diharapkan film ini dapat menjadi ‘terapi seni’ bagi para penontonnya untuk menjalani hidup dengan penuh damai dan cinta. Pendekatan artistik yang unik ini membuat film ini menonjol diantara film-film lainnya.

Selain Rima Irani, festival film perdamaian yang digelar rutin tahunan ini dihadiri berbagai sineas seluruh dunia, seperyi di antaranya, Tony Gonzalez (Amerika Serikat), Oxana Chi (Jerman), Dooa Alashgar (Yordania), Shinya Watanabe (Jepang), Orlando Torres Osorio (Chile), Hiromi Takagi dan Izumi Suzuki dari Jepang, Leonid Vayn (Amerika Serikat), Pål Brekke (Norwegia), Maite Ruiz de Austri (Spanyol), Carlos Sargedas (Portugal), Laurie dan Michael Jaffe (Amerika Serikat), Rahim Toffan (Iran), Andres Garrigo (Spanyol), Cheryl Halpern (Amerika Serikat), dan Jackie Guzda (Amerika Serikat). Festival ini juga dihadiri beberapa menteri yang memberikan sambutan, apresiasi dan dukungan langsung. Juga dihadiri oleh belasan duta besar negara sahabat, raja-raja di Nusantara, sineas-sineas mancanegara, artis-artis ibukota, perwakilan PBB, para penggiat Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan dan masyarakat.

Pada acara ini juga diluncurkan Gerakan Sosial World Environment Movement (WEM). World Environment Movement merupakan sebuah gerakan sosial yang bertujuan membangun awareness masyarakat dunia akan pentingnya lingkungan hidup bagi kemanusiaan dan perdamaian. Dan tidak ada kemanusiaan dan perdamaian tanpa lingkungan hidup begitu juga sebaliknya.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengatakan, Indonesia harus mengambil posisi terdepan dalam kampanye Lingkungan Hidup dan tidak boleh main-main dalam menangani masalah yang sangat serius ini. Semua pihak khususnya kalangan media dan dunia kreatif adalah ujung tombak untuk membangun kesadaran ini.

Untuk memperkuat pesan Lingkungan Hidup, Perdamaian dan Kemanusian, diluncurkan secara perdana video klip “Bumiku” karya penyanyi muda Natasha Dematra. Videoklip yang disutradarai langsung oleh pemegang rekor dunia sutradara perempuan termuda di dunia ini adalah soundtrack dari Film Dokumenter “Siti Nurbaya Bakar: Srikandi Pembawa Perubahan”, yang lagunya diciptakan oleh Natasha Dematra bersama Abah Ukam. Sebuah lagu yang membawa pesan yang kuat akan bahayanya pemanasan global dan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh ulah manusia.

Festival yang digelar Dewan Kreatif Rakyat bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Russian Culture Centre, World Film Council, Film Festivals Alliance, i-Hebat International Volunteers, Jaringan Bisokop XXI dan Radio Republik Indonesia, ini merupakan ini rangkaian kerja sama juga dengan berbagai festival berskala internasional lainnya yaitu, International Film Competition (IFCOM), Documentary and Short International Movie Award (DOSHIMA), dan International Tourism Award (ITA).

IFFPIE dan WHA merupakan festival-festival berskala internasional yang memfokuskan film-filmnya kepada tema-tema perdamaian, inspiratif, kesetaraan dan kemanusiaan yang berpusat di Jakarta. Pada tahun ini, festival-festival ini telah menerima 825 film dari seluruh dunia untuk diperlombakan. (YW/AS)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts