Fenomena Larisnya Film “Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1”

Fenomena Larisnya Film “Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1”

Memproduksi ulang film laris memang punya kecenderungan laris juga. Apalagi didukung dengan promosi besar-besaran. Poster raksasanya bahkan membungkus gedung Veteran yang menghabiskan biaya milyaran. Demikian juga dengan film komedi “Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1” menjadi film laris, bahkan mencetak sejarah sebagai film yang ditonton lebih dari 2 juta orang hanya dalam lima hari tayang. Potensi penonton film di Indonesia memang sangat luar biasa. Fenomena larisnya film produksi Falcon Picture itu menunjukkan, bahwa film nasional memang tidak kalah dibandingkan film Hollywood.

Menurut produser HB Naveen, sukses Warkop DKI Reborn tidak terlepas dari dukungan jaringan bisokop Cinema21 yang memberikan banyak layar kepada film ini. “Hari pertama kami hanya mendapat kurang dari 200 layar. Ketika terbukti minat penonton terhadap film ini sangat tinggi, pihak Cinema21 menambah jumlah layar hingga menjadi 620 layar,” ujarnya kepada wartawan.

Dengan layar sebanyak itu berarti Cinema21 mengalokasikan 73 persen dari 850 layar yang dimilikinya di seluruh Indonesia untuk pertunjukan film yang dibintangi Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, dan Tora Sudiro tersebut. Jumlah layar yang menayangkan Warkop DKI Reborn juga menjadi rekor tersendiri sepanjang sejarah pertunjukan film Indonesia.

Lebih lanjut, HB Naveen menerangkan, jumlah penonton yang diperoleh Warkop DKI Reborn, belum pernah dicapai sebelumnya oleh film Indonesia maupun film asing yang diputar di Indonesia. Sebelumnya film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2 pernah mencetak rekor 1 juta penonton dalam lima hari pertunjukan. “Ini bukti bahwa film Indonesia mampu berjaya di rumahnya sendiri,” ungkapnya bangga.

Sementara itu Corporate Secretary Cinema21 Catherine Keng mengatakan, pengalokasian layar yang maksimal untuk film Warkop DKI Reborn, sebagai komitmen pengusaha bioskup dalam memajukan film Indonesia. “Setiap ada film nasional yang bagus dan menarik minat banyak penonton, berapa pun layar yang dibutuhkan akan kami berikan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa penonton film di Indonesia saat ini sudah sangat independen, artinya tidak bisa dibatasi atau didikte harus menyaksikan film nasional atau film asing.

Mereka, tambahnya, hanya akan datang ke bisokop jika ada film yang dianggap menarik dan layak ditonton, termasuk film nasional.

“Cara terbaik untuk memajukan perfilman Indonesia adalah membuat sebanyak mungkin film nasional yang berkualitas dan menarik minat penonton, ” ujarnya.

Di sejumlah bioskop jaringan Cinema21 di Jakarta dan kota-kota lain, film Warkop DKI Reborn menyita semua layar yang tersedia sehingga menjadi satu-satunya film yang diputar dalam beberapa hari terakhir ini.

Film komedi yang konon diproduksi dengan biaya Rp7,5 milyar tersebut mengungguli film-film asing yang sedang diputar seperti BFG (Steven Spielberg), Sully (Tom Hanks), atau Mechanic Resurrection (Jason Statham) yang terpaksa harus dihentikan penayangannya karena tidak kebagian layar. (Istimewa)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts