Dialog Interaktif Forwan: Eksistensi Masa Depan TV Masih Tetap Optimis

Dialog Interaktif Forwan: Eksistensi Masa Depan TV Masih Tetap Optimis

Menggagas sebuah peringatan memang membutuhkan perjuangan dan waktu yang panjang. Begitu juga dengan peringatan “Hari TV Indonesia” yang digagas Forwan (Forum Wartawan Hiburan). Apalagi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) rencananya akan mengusulkan peringatan “Hari Penyiaran Indonesia” yang di dalamnya tentu termasuk TV. Eksistensi TV tampaknya masih tetap dibutuhkan masyarakat. Selama ini TV cenderung hanya mementingkan peringkat demi meraih iklan sebanyak mungkin, dan semestinya juga ada manfaatnya bagi masyarakat yang disertai edukasi (pendidikan). Meski media digital semakin merajalela, kita masih tetap optimis eksistensi masa depan TV. Demikian yang mengemuka dalam acara Dialog Interaktif “Televisi Indonesia Menjangkau Peringkat dan Manfaat” yang diselenggarakan Forwan dengan sponsor LG Elektronik di Gedung Film, Jakarta, Rabu, 31 Agustus 2016.

Acara diawali dengan Ramon Papana yang menyampaikan bahwa Forwan menggagas sebuah peringatan yang selama ini belum ada, yakni Hari TV Indonesia. Untuk menggagas Hari Nusantara membutuhkan waktu yang lama, tapi untuk Hari Televisi cukup singkat. “Selama ini TV hanya mengejar peringkat, tapi jarang mengenai manfaat, “ ucapnya.

Kemudian, Budi Ace memaparkan ikhtisar gagasan Forwan mengenai Hari TV Indonesia, yang kurang lebih membicarakan TV jadi industri besar saat ini. TV ibarat etalase. TV bisa menjadi perekat persatuan bangsa.

Didampingi Ketum Forwan Sutrisno Buyil, Alex Kumara secara resmi membuka acara Dialog Interaktif “Televisi Indonesia Menjangkau Peringkat dan Manfaat” dan kemudian secara simbolik menyerahkan mic ke Maman Suherman untuk memimpin dialog interaktif.

Maman Suherman mengawali pembicaraan tentang tayangan TV yang dari awal harus selalu menohok agar tidak ditinggalkan pemirsanya. Setelah itu, ia membeberkan mengenai sejarah TV di Indonesia yang mulai percobaan siarannya pada 17 Agustus 1962 dengan penayangan upacara perayaan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-17 dari Istana Presiden Republik Indonesia di lapangan Medan Merdeka, kawasan Gambir, Jakarta Pusat. Barulah pada 24 Agustus 1962 siaran diresmikan Televisi Republik Indonesia mengudara untuk pertama kalinya sebagai stasiun televisi pertama di Indonesia dengan acara siaran langsung upacara pembukaan Asian Games IV di Jakarta, tanggal 24 Agustus akan dijadikan Hari TV. Adapun Pemerintah melalui Kominfo rencananya akan membuat perngatan Hari Penyiaran.

Sejarah mencatat, TVRI adalah stasiun televisi pertama di Indonesia. Sejarah pendiriannya bermula saat Presiden Soekarno dengan politik mercusuarnya ingin negara Indonesia dikagumi bangsa-bangsa seantero dunia. Pada saat Indonesia akan jadi tuan rumah ajang olahraga Asian Games, Bung Karno dengan semangat “Bandung Bondowoso” mengerahkan jajaran pemerintahannya untuk secepatnya mendirikan stasiun televisi. Saat itu posisi Indonesia sebagai pemuka negara di Asia-Afrika dan menjadi fokus perhatian bangsa-bangsa Asia khususnya dan dunia pada umumnya, jadi Indonesia memang perlu memiliki stasiun televisi dan kemudian pada tahun 1962 didirikan TVRI yang menjadi sejarah pertama adanya televisi di Indonesia.

Sudarmadi dari Kominfo menegaskan bahwa 1 April akan dijadikan Hari Penyiaran yang sudah dusulkan sejak tahun 2010. Jadi kalau ada Hari TV berarti bentrok karena dalam penyiaran tentu termasuk ada TV. Merujuk pada Hari Pers ditetapkan dari lahirnya PWI juga dipermasalahkan.

Katrina dari AC Nielson menyebut perolehan iklan yang diraup TV sekitar 24, 1 trilyun gross. Netnya tidak terlalu tahu. Hari TV yang dicanangkan Forwan pasti akan berlahan lama karena TV sampai sekarang mempunyai jangkauan yang tinggi. TV tidak mungkin ditinggalkan iklan. Ada kenaikan. Optmisme industry Tv masih tinggi.

Ningsih Sumitro (Roy Morgan Research) menyebut lembaganya hanya memfokuskan penonton untuk melihat trend an kualitas acara TV. Juga pemasang iklan yang pas dengan program acaranya. Kualitas seperti apa yang diinginkan penonton? Lebih kuantitas penonton.

Endah Hari Utari (Direktur Program dan Produksi MNCTV ) melihat perkembangan media dari dulu ada prediksi. Untuk sepuluh tahun ke depan, TV masih tinggi. Prediksi kepemirsaannya pada 2019. Kita tinggal tunggu waktunya.

Wisnutama (Direktur Utama Net TV) mengatakan bahwa TV bukan hanya sebuah benda saja. Tapi lebih menarik kontennya. Pada jamannnya orang memasang iklan melihat kontennya. Jaman dulu rating, tapi sekarang dipresisi lagi. Industri TV adalah industri yang besar. 15 tahun ke depan masih tinggi industry TV. Digital memang berkembang. Itu terjadi dimana-mana. Kultur menyaksikan konten akan berubah.

Maman mengingatkan TV harus memikirkan hak cipta untuk digital. Wishnutama pun menyampaikan dari dulu sudah dipikirkan mengenai hak cipta digital

Zul Lubis menyambut baik diskusi soal peringkat dan manfaat dari TV. Sekarang masyarakat kita sudah merasakan. Sepanjang masyarakat masih menerima kehadiran TV berarti TV masih bermanfaat. Kontennya sensasional. Menanmpilan sebuah lagu yang dicantumkan semstinya penciptanya, bukan hanya penyanyinya. Adapun TV yang menayangkan you tube harus ditegur. TV memberi manfaat juga harus edukasi. Bagaimana TV bermanfaat bagi pengelola di dalamnya, tapi juga masyarakat. Lebih jauh, Zul menyampaikan kepeduliannya pada Ibu Zuraida, istrinya Ismail Marzuki, yang hidupnya mengenasan. Kasus ini mengingatkan kita kalau TV haris masuk pada penghargaan pencipta lagu. Hargailah para pencipta lagu.

Alex Kumara menyambuat baik apa yang diusulkan Zul dan diharapkan pada tahun-tahun mendatang lebih baik perhatian pada para pencipta lagu.

Maman pun mengungkap fakta yang miris bahwa Gesang memberikan hak cipta lagu Bengawan Solo pada orang Jepang. Ini semestinya tidak terjad.

Edo wartawan Urban News: menyampaikan tentang menariknya tema peringkat dan manfaat. TV sebagai broadcast yang menyiarkan, tapi sekarang sudah membuat program acara sendiri. Hal ini tentu tidak menmbulkan kreatifitas baru.

Maman: TV sudah jadi ATM (Amati Tiru Melakukan}

Wisnutama sebagai kreator acara program TV menegaskan tidak ada acara TV yang tidak terinspirasi acara lainnya. Salah kalau ada anggapan, bahwa sekarang TV programnya seragam. Acara TV sudah mulai bervariasi.

Indosiar: satu minggu 300 program jadi programmnya tidak seragam. Stasiun punya program acara sendiri. Tapi hanya program drama. 15 persen diproduksi PH

Alex Kumara menyampaikan pertanyaan menohok: apakah program TV masih kreatif? Setiap kota kini mempunyai kurang lebih sekitar 18 TV apakah itu tidak kebanyakan?

Dialog yang cukup singkat itu dittutup Maman dengan papara TV bukan sekedar institusi hiburan. Kita masih yakin dan optimis masa depan TV. Jadi TV semestinya bukan hanya mengejar peringkat dan manfaat, tapi juga dapat berharkat dan bermartabat, Semoga. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts