Gandeng 60 Public Figure Perempuan, Nova Eliza Kampanyekan ‘Stop Violence with Art’

Gandeng 60 Public Figure Perempuan, Nova Eliza Kampanyekan ‘Stop Violence with Art’

Kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan makin marak terjadi. Berangkat dari keprihatinan ini, aktris Nova Eliza menggagas kampanye ‘Suara Hati’ bertajuk ‘Stop Violence with Art’ yang digulirkan sejak awal Desember di Jakarta yang berlanjut pameran foto seni di Bali, Yogyakarta dan Makassar. Kini acara inspiratif yang menggandeng sekitar 60 public figure ini didukung Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, Jakarta dengan rangkaian kegiatan berupa pertunjukan seni budaya, talk show, dan pameran foto seni.

“Ini salah satu yang aku dan kawan-kawan di Suara Hati perjuangkan. Kami turut prihatin akan meningkatnya kekerasan terhadap anak dan perempuan. Kami berkampanye akan hal tersebut melalui sebuah aksi ‘Stop Violence with Art,” kata Nova Eliza kepada wartawan di Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (12/5/2016) malam.

Lebih lanjut, Nova menerangkan, belum lama ini ada kejadian Yuyun. “Kita tahu hal tersebut sangat bejat, kami berharap masyarakat turut prihatin,” harapnya.

Menurut Nova, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan yang pada tahun 2014 lalu mencapai 293.220 kasus. Data dari Komnas Perempuan tersebut setiap tahunnya selalu meningkat akan kekerasan anak dan perempuan. “Kami mencoba memberikan edukasi dan bisa menghentikan kekerasan itu bersama-sama. Dalam hal ini, cara kami adalah melakukan kegiatan positif,” ungkapnya.

“Kami juga berharap, korban semakin berani bersuara dan melakukan kegiatan hal yang positif,” pungkasnya.

Pameran foto seni hasil karya antara lain Nurulita yang berkolaborasi dengan fotographer Dewandra Djelantik ini menampilkan sekitar 60 public figure perempuan Indonesia dari berbagai bidang, seperti di antaranya, Rima Melati, Susan Bachtiar, Sandra Dewi, Olla Ramlan, Krisdayanti, Cut Mini, Happy Salma, Indi Barends, Cut Keke, Ine Febrianti, Maudy Kusnaedi, Marcella Zalianty, Lenny Agustin, Dira Suganti dan Sundari Soekotjo, yang begitu ekspresif dan emosional menyampaikan pesan sosial turut mengutuk kekerasan terhadap anak dan perempuan. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts