Sepak Terjang Aktivis Lingkungan Chanee Dalam Kalaweit Wildlife Rescue Season II

Sepak Terjang Aktivis Lingkungan Chanee Dalam Kalaweit Wildlife Rescue Season II

Eagle Institute Indonesia meluncurkan program Kalaweit Wildlife Rescue season II. Sebuah tayangan yang menampilkan sepak terjang aktivis lingkungan sekaligus pemilik Yayasan Kalaweit, Aurelien Brule atau yang akrab disapa Chanee, dalam menyelamatkan binatang liar yang terancam hidupnya. Tergambar upaya pria asal Perancis yang sudah menjadi WNI ini saat menangkap, memelihara dan mengembalikan kembali binatang ke alam habitatnya.

“Sebenarnya mungkin lebih lengkap lagi, karena tidak hanya di lingkungan Kalaweit itu sendiri, tetapi di season kedua ini kita keluar dari lingkungan Kalaweit, ke tempat lain. Kalaweit itu di Kalimantan dan Sumatera, kitapun ke Mentawai dan lokasi lain,” kata Chanee, saat acara peluncuran film dokumenter Kalaweit Wildlife Rescue season II, di Hotel Pullman, Central Park, Jakarta Barat, Rabu (2/3/2016).

Sejak 1997, Chanee memang sudah mendedikasikan diri untuk menyelamatkan binatang liar di Kalimantan dan Sumatera. Awalnya Channe hanya fokus menyelamatkan primata jenis Owa, salah satu binatang endemik di hutan Indonesia, namun upaya penyelamatan bertambah ke binatang jenis lain, mulai dari buaya, ular, kelelawar dan beruang.

Ayah dua anak ini mengaku, saat menyelamatkan binatang dalam kondisi yang terancam bisa memberikan kesenangan tersendiri. Terlebih saat melepas binatang kembali ke alam, hal itu sangat berkesan bagi dirinya.

“Yang saya ingat adalah setiap kali berhasil menyelamatkan satwa ini atau buka kandang. Di season dua ini ada beberapa satwa yang akhirnya kembali ke alam, perasaan ini ada kamera atau tidak, buat saya, itu yang terpenting dan itu yang berhasil direkam teman-teman Eagle (Eagle Institute Indonesia –red). Tentu itu perasaan senang, ujung dari perjuangan saya dan tim saya adalah pada saat kandangnya terbuka,” ungkap Chanee.

Sementara itu, Sekjen Eagle Institute Indonesia Bambang Hamid mengatakan, program ini diharapkan bisa menjadi inspirasi dan bisa menggerakan masyarakat untuk menyelamatkan flora maupun fauna yang ada di Indonesia.

“Program Kalaweit Wildlife Rescue season II ini mudah-mudahan bisa menjadi salah satu tontonan yang menghibur dan bermanfaat. Yang penting bahwa betapa kita harus tahu kondisi alam kita saat ini,” kata Hamid.

Dalam kesempatan yang sama, Sutradara Kalaweit Wildlife Rescue Season II, Jastis Arimba, memaparkan, program ini ingin menyajikan kejujuran dari upaya dan dedikasi serta konservasi dari program Kalaweit.

Jastis menjelaskan, dalam season ini, tim Eagle Institute Indonesia berupaya mengemas program lebih nyata dalam upaya evakuasi yang dilakukan Kalaweit. Namun, bukan hanya keberhasilan yang ditampilkan, tapi season ini juga merekam kegagalan yang pernah dialami Chanee.

“Bahwa upaya konservasi yang dilakukan Chanee itu tidak serta merta memaparkan succes story nya saja, tapi kita juga memotret bagian dari persoalan-persoalan, tantangan, bahkan kegagalan-kegagalan yang memang sebagai manusia kita harus alami, tapi pada bagian itu dia tidak menyerah dan dia terus melakukan perjuangan tersebut,” jelas Jastis.

Tayangan berbentuk dokumenter yang terdiri dari 13 episode, yang setiap episode berdurasi selama 30 menit, ini rencananya bakal tayang di stasiun MetroTV dalam waktu dekat ini. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts