Sambut Hari Perempuan Internasional, DKR Beri Penghargaan 3 Tokoh Perempuan Indonesia

Sambut Hari Perempuan Internasional, DKR Beri Penghargaan 3 Tokoh Perempuan Indonesia

Menyambut Hari Perempuan Internasional (8 Maret) dan Hari Anti Diskriminasi Internasional (1 Maret) yang peringatannya diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Dewan Kreatif Rakyat (DKR) memberi penghargaan ‘International Women of Change’ pada 3 tokoh perempuan yang telah memberikan kontribusi yang besar untuk perubahan, yaitu Menteri Sosial Dra. Khofifah Indar Parawansa, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc. dan Direktur Utama LPP RRI Dra. Rosarita Niken Widiastuti, MSi. Penghargaan dalam rangkaian Malam Penganugerahan International Film Festival For Women, Social Issues, and Zero Discrimination (IFFWSZ) ini diberikan pada hari Senin, 7 Maret 2016 di Auditorium Radio Republik Indonesia (RRI).

Selain memberikan penghargaan kepada 3 Tokoh Perempuan tersebut, di acara ini diumumkan Film Terbaik dari IFFWSZ. Film Forgiveness karya Rima Irani dari Lebanon terpilih sebagai yang terbaik untuk tahun ini. Film ini berkisah tentang seorang wanita yang pergi ke pskiater untuk menyembuhkan luka batinnya. Film ini berpusat pada pikiran sang wanita dalam berperang dengan masa lalunya yang berat untuk dapat menang dan memulai hidup baru. Dipilihnya film ini sebagai Film Terbaik dikarenakan film pendek ini merupakan sebuah film eksperimental yang menggabungkan seni lukis di setiap adegan dan menjadikannya representasi pikiran sang wanita. Film ini diharap dapat menjadi ‘terapi seni’ bagi para penontonnya untuk menjalani hidup dengan penuh damai dan cinta. Pendekatan artistik yang unik ini membuat film Forgiveness menonjol diantara film-film lainnya.

Sedangkan predikat Film Terbaik untuk International Movie Awards jatuh kepada The Butterfly, The Harp, and The Timepiece. Film ini berkisah tentang sebuah toko sihir yang dapat mengubah jalan hidup ketiga tokoh utama untuk percaya akan harapan dan cinta di film pendek ini. Film ini dibintangi oleh aktris peraih Oscar, Melissa Leo dan Peraih Golden Globe, Alex Ebert dan musik oleh Peraih Grammy Award, Alex Geringas. Film ini disutradarai oleh Rodney Vance.

“Dengan adanya festival berskala internasional seperti ini saya harap nama Indonesia makin diharumkan dan juga sineas-sineas dunia dapat terinspirasi untuk membuat film-film yang dapat menginspirasi semua generasi. Karena dengan menonton film yang tepat, saya yakin manusia dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Damien Dematra selaku founder dan director dari International Film Festivals ini.

Festival ini telah memilih 75 film pemenang dari 425 film yang berasal dari lima benua. Tujuan festival ini sendiri dikarenakan masih minimnya kepedulian masyarakat internasional dan nasional akan isu-isu kesetaraan gender, isu sosial dan anti diskriminasi. Festival ini berharap dengan banyaknya film-film bertema inspiratif tersebut dapat membuat dunia menjadi lebih baik. Festival ini sendiri bekerja sama dengan dua festival internasional lainnya yaitu International Movie Awards dan Filmmakers World Festival.

Di acara ini juga diluncurkan Album Musik Video “Karena Aku Perempuan” karya Duta Perempuan, Natasha Dematra. “Dengan adanya album ini saya harap para generasi muda, tanpa melihat gender mereka, dapat berbuat sesuatu yang dapat menginspirasi dunia. Semoga album ini dapat menjadi inspirasi bagi dunia bahwa kesetaraan gender masih harus terus diperjuangkan selama diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan masih berlangsung,” ujar Sutradara Perempuan Termuda Di Dunia ini.

Musik Video “I Will Survive” dipilih sebagai lagu utama dari Album Musik Video ini. Lagu ini dipilih karena mengangkat isu anti-kekerasan kepada seluruh perempuan di dunia. “I Will Survive” menceritakan tentang kehidupan seorang pemulung perempuan cacat yang diperankan oleh aktris peraih banyak penghargaan internasional Virda Anggraini, yang menerima hidup dengan senyuman walaupun penuh keterbatasan sampai suatu hari kehormatan satu-satunya yang ia miliki direnggut oleh sopir angkot. Dia harus memilih antara mengugurkan kandungannya atau memperjuangkan nasib kehidupan bagi sang janin. Di samping itu, panggilan batinnya untuk dapat mendidik anak-anak putus sekolah memaksa dia untuk belajar menulis dan membaca secara otodidak. Perjuangannya menjadi simbol perjuangan perempuan yang terpinggirkan di berbagai pelosok dunia namun memiliki semangat pantang menyerah. Dalam album ini 10 lagu dinyanyikan oleh Natasha dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Lagu-lagu tersebut telah memenangkan lebih dari 40 penghargaan internasional diberbagai kompetisi tingkat dunia diantaranya Penyanyi Terfavorit untuk Natasha Dematra diajang Global Music Awards dan Humanitarian Awards dari GIFF yang berpusat di Las Vegas.

Film-film pemenang akan ditayangkan dari tanggal 7 Maret 2016 dan ditutup pada Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret 2016 di Pusat Kebudayaan Rusia, Teras Cibulan, Bioskop Rakyat Keliling, beberapa SMA dan berbagai tempat lainnya tanpa dipungut biaya. Acara ini didukung oleh Kementerian Pemuda dan Olah Raga, i-Hebat International Volunteers, Teras Cibulan Cafe, Yayasan Peduli Anak Indonesia (PENA), Russian Culture Centre, World Film Council dan RRI sebagai media partner dan penyelenggara. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts