Najwa Shihab: Buku adalah Sebaik-baiknya Sahabat

Najwa Shihab: Buku adalah Sebaik-baiknya Sahabat

Jika seseorang mendapat jabatan biasanya amat sangat senang, bahkan banyak orang yang menyambutnya dengan perayaan penuh suka cita. Tapi tampaknya tidak bagi presenter cantik Najwa Shihab. Didapuk oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI jadi Duta Baca periode 2016-2020, ia justru mengaku khawatir. Bahkan sebelum menghadiri pelantikan ia sampai melakukan riset sebagai bentuk kekhawatirannya itu.

“Saya khawatir karena minat baca masyarakat Indonesia terendah di antara 52 negara Asia,” kata Najwa Shihab di podium saat pelantikan dirinya jadi Duta Baca di Auditorium Perpusnas RI, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, Selasa (1/3/2016).

RISET
Lebih lanjut, perempuan kelahrian Makassar, 16 September 1977 yang akrab dipanggil Nana, ini menerangkan bahwa dirinya sebelum menghadiri pelantikan sampai harus melakukan riset sebagai bentuk kekhawatirannya itu. “Saya googling dan mencari tahu tentang kondisi budaya membaca di Indonesia. Dan kenyataan yang saya temukan sangat mengkhawatirkan,” terang Nana.

Menurut Nana, data survey Unesco memperlihatkan Indonesia punya budaya membaca terendah. Berdasarkan data UNESCO, presentase minat baca Indonesia sebesar 0,01 presen. “Artinya, di Indonesia dari 1000 orang hanya 1 yang punya minat membaca. Sementara di Eropa perbandingannya 1 : 25, di Jepang 1 : 15! Ini benar benar tragedi buat kita!” ungkapnya.

Pembawa acara berita Mata Najwa di Metro TV ini menyebut kekahwatiran lain, “di semua negara, para siswa di tingkat SMA, diwajibkan membaca buku sastra. Sementara di Indonesia tidak seperti itu. Sepanjang Indonesia Merdeka, kita telah menjadi bangsa tanpa literasi, dan dengan mudah kita menjadi bangsa pemarah, pencela tanpa keleluasaan hati dan minus imajinasi!” ujar isteri Ibrahim Assegaf, dan Ibu dari Izzat (14 tahun) ini.

Dengan menggenggam banyak kekhawatiran, Najwa menerima tugas sebagai Duta Baca. “Sebenarnya ini tugas berat dan menantang,” tuturnya jujur.

CINTA
“Saya harus bisa menjadi mak comblang bagi banyak orang untuk jatuh cinta pertama kali pada buku! Buat saya, buku adalah sebaik-baiknya sahabat! Ia bisa menasehati tanpa kita merasa sakit hati. Ia bisa kita bawa ke manapun kita pergi!”

Nana mengaku dituntun keluarganya sejak kanak-kanak untuk mencintai buku. Keluarganya memang cinta membaca dan pengoleksi buku. Di rumahnya penuh dengan beragam jenis buku. “Saya pribadi sejak kecil punya perpustakaan sendiri, dan menyewakan buku-buku saya pada teman dan kakak dengan harga Rp 25,- per buku!” kenangnya.

MOTIVATOR
Sementara itu, Kepala Perpusnas Sri Sularsih, menyampaikan, bahwa tugas Nana jadi Duta Baca adalah mengampanyekan kebiasaan membaca di kalangan masyarakat Indonesia selama lima tahun ke depan. “Duta Baca Indonesia merupakan seorang publik figur yang lekat dengan dunia perpustakaan dan aktivitas membaca. Selain mengampanyekan kebiasaan membaca, seorang duta baca juga harus berperan aktif dalam menumbuhkan minat membaca, “ paparnya.

“Misi utama duta baca adalah mengampanyekan kebiasaan membaca di kalangan masyarakat Indonesia. Berperan aktif membantu program nasional dalam menumbuhkembangkan kebiasaan membaca masyarakat Indonesia melalui berbagai kegiatan yang telah dipersiapkan Perpusnas, seperti di antaranya melakukan penyuluhan, seminar, talkshow, juga menjadi panutan dalam kegiatan membaca, “ imbuhnya.

Sri berharap presenter Mata Najwa ini bisa menjadi motivator bagi masyarakat Indonesia agar semakin giat membaca.

TINGKATKAN PELAYANAN
Mengingat pentingnya membaca, Perpusnas berupaya meningkatkan pelayanan dengan membentuk suatu pusat kekuatan informasi dan pengetahuan berbasis TIK. Portal yang diberi nama Indonesia One Search itu bertujuan supaya pemustaka dapat maksimal mengakses bahan bacaan secara cepat, mudah, dan fleksibel meskipun dari jarak jauh. “Saat ini sudah bergabung 218 institusi dengan data yang terhimpun sekira 4,1 juta record,” ungkap Sri.

Pada kesempatan tersebut, Perpusnas turut menyosialisasikan Integrated Library System atau INLIS, yaitu perangkat lunak aplikasi otomasi perpustakaan yang sudah dikembangkan sejak 2011. “Diharapkan software ini mampu menjawab kekurangan yang masih ditemukan di perpustakaan yang ada di Indonesia. Hingga saat ini, kami terus melakukan sosialisasi, lokakarya, diskusi untuk mendapat masukan dari berbagai pihak yang bersedia bergabung dalam jaringan ini,” ungkapnya.

Sri memaparkan, INLIS Lite versi 3.0 yang sedang dikembangkan dibangun di atas platform open source. Aplikasi ini membantu pembentukan katalog elektronik yang berfungsi sebagai alat perpustakaan digital untuk mengelola koleksi full text dan multimedia.

Selain meluncurkan Indonesia One Search, Perpusnas juga melakukan penandatanganan MoU dengan beberapa mitra baru, meliputi Bank Indonesia, Pemkab Berau, dan STAIN Bengkalis. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts