LSF Ingatkan Netflix Patuhi UU Perfilman

LSF Ingatkan Netflix Patuhi UU Perfilman

Netflix secara resmi hadir di Indonesia sejak 7 Januari 2016 lalu. Banyak pihak yang mengkhawatirkan kehadiran layanan streaming film online digital tersebut. Terkait kehadiran Netflix, Lembaga Sensor Film (LSF) menyampaikan pernyataan sikapnya.

“Dalam beberapa hari terakhir banyak yang menghubungi saya meminta pandangan terkait hadirnya media penyiaran netflix di Indonesia,” kata Ketua LSF Ahmad Yani Basuki dalam acara jumpa pers di Gedung Film, Jl. MT Haryono, Pancoran, Jakarta, Senin (11/1) siang.

Lebih lanjut, lelaki kelahiran Blora, 5 Maret 1956 yang menjabat di LSF sebagai perwakilan masyarakat bidang Pertahanan dan Keamanan, itu menerangkan kehadiran Netflix dan layanan serupa yang sudah ada sebelumnya merupakan sebuah keniscayaan. Siapapun harus siap menghadapi kehadiran media seperti ini di masa mendatang. “Kita harus menghadapi sesuai dengan tugas, pokok dan fungsi masing-masing. Termasuk LSF,” terang Yani.

Menurut Yani, para anggota LSF sebelumnya telah berkumpul di kantor untuk nonton bareng Netflix, bahwa di antara film-film Netflix ada yang tidak layak tayang. “Ada yang pernah kami tolak sensornya saat akan tayang di bioskop,” ungkapnya tanpa menyebut judul filmnya.

“Bahkan film yang telah lulus sensor jika ingin ditayangkan ke media lain harus mengajukan sensor lagi karena menyangkut media yang berbeda,” imbuhnya.

Di antara kriteria adegan wajib sensor di film adalah yang mendorong kekerasan, judi, dan penyalahgunaan narkotik. Selain itu juga adegan yang menonjolkan pornografi; memprovokasi pertentangan suku, agama dan ras; menistakan agama; mendorong khalayak melawan hukum dan merendahkan martabat manusia. Jika satu film terlalu banyak menampilkan adegan tersebut, maka LSF tak hanya akan menerapkan “menggunting” pita film melainkan menolak sensor dan otomatis mencegah penayangannya.

Khusus untuk Netflix, LSF mengingatkan bahwa dalam Undang-undang nomor 33 tahun 2009 tentang Perfilman disebutkan bahwa tiap film yang akan dipertontonkan pada khalayak harus mengantongi surat tanda sensor dari LSF. Sementara, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu sama sekali belum mengajukan permohonan sensor untuk film-film yang ditayangkannya. “Tanpa memenuhi ketentuan tersebut, kami akan merekomendasikan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk memblokir layanan tersebut,” sarannya.

Apalagi, Netflix sebenarnya juga belum mengantongi izin dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. “Kami ingatkan, kalau tidak mau mengurus izin resmi ya jangan masuk sini,” tegasnya.

Ahmad Yani Basuki mengakui dengan hadirnya layanan seperti ini tanggung jawab pihaknya akan semakin besar. Karena itu dibutuhkan perhatian dan kerja sama bersama antara insan perfilman khususnya, pemerintah atau lembaga regulator lainnya, LSF dan masyarakat. (Akhmad Sekhu).

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts