“Suara Angganeta”, Film Jeritan Hati Perempuan Papua

“Suara Angganeta”, Film Jeritan Hati Perempuan Papua

Film etnik Biak “Suara Angganeta” yang menyabet penghargaan khusus Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 berkisah tentang jeritan hati perempuan Papua terhadap berbagai fakta sosial yang terjadi di masyarakat.

Ketua teater Orchid Papua Agustina Klorway Kbarek di Biak, Senin, mengakui, pemain film “Suara Angganeta” adalah kaum ibu-ibu Papua yang menyuarakan isi hati perempuan dalam berbagai kondisi sosial masyarakat seperti masalah peredaran minuman keras, pengrusakan lingkungan, kasus kekerasan dalam rumah tangga hingga aspek pendidikan anak.

“Kritik sosial yang diperankan ibu-ibu Papua di film merupakan sesuatu yang baru untuk menggugah hati para pemimpin daerah untuk tetap memperhatikan berbagai fakta sosial yang harus ditangani tuntas,” ungkap Agustina Kbarek.

Ia mengakui, akting otodidak perempuan Papua dalam film “Suara Angganeta” sangat menyentuh nilai kemanusiaan.

Dia berharap, film etnik “Suara Angganeta” menjadi simbol perjuangan ibu-ibu Papua dalam menyuarakan kedamaian dan keadialan sosial yang terjadi di tanah Papua.

“Meski dengan keterbasan sarana dan prasarana namun teater Orchid Papua mampu menampilkan film etnik nusantara yang mengangkat persoalan sosial masyarakat kampung,” ungkapnya.

Sementara itu, Suradara Film “Suara Angganetha” Herry mengakui, pemain film “Suara Angganeta” merupakan kelompok ibu-ibu Papua yang bermain secara ototidak dan sederhana namun sangat menyentuh hati nurani bagi orang yang menonton fllm lokal Biak.

“Suara jeritan ibu-ibu Papua melalui film Suara Angganeta perlu ditonton karena sangat orisinal, ototidak dan apa adanya,” katanya.

Film etnik penyabet penghargaan khusus festival film etnik nusantara 2015 ini diputar pada acara syukuran dan seminar peran media terhadap perjuangan perempuan Papua. (ANT/DSP/AS)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts