Jejak Totalitas Seorang Selebritas

Jejak Totalitas Seorang Selebritas

Ivan Gunawan adalah fenomena selebritas Indonesia. Ivan beda dari selebritas lainnya. Tetap mempertahankan tubuhnya yang subur, yang itu tentu sangat dihindari bahkan jadi momok selebritas lainnya maupun masyarakat pada umumnya. Ia menyadari betul kesuburan tubuhnya dan tetap tampil penuh percaya diri. Untuk itu, ia mengeksplorasi apa adanya, dan memanfaatkan kelebihan dari kesuburan tubuhnya dengan penampilan yang layaknya seorang perempuan. Totalitasnya sebagai selebritas memang tak bisa diragukan. Karena sejak kecil, ia menetapkan tekad untuk jadi seorang selebritas, yang sekaligus fashion designer, sebagai pilihan hidupnya.

Ia keponakan dari desainer Adjie Notonegoro, tapi ia tidak memanfaatkan aji mumpung untuk menjadi desainer. Kariernya dimulai dari bawah sekali, Masa kecil dan remajanya penuh tantangan. Tinggal seorang diri di Rusia, bekerja paruh waktu sebagai asisten sang paman hingga tidak dikuliahi oleh sang ayah, ia terima, karena pilihannya untuk menjadi seorang selebritas, yang sekaligus fashion designer.

Sepuluh tahun, ia lalui dengan suka duka. Memilih tampil dengan dandanan wanita, terjerumus dalam pergaulan yang mengenalkannya dengan obat-obatan terlarang, hingga gaya hidup berfoya-foya, semuanya pernah ia lewati. Hingga akhirnya ia mengambil alih dan mengubah untuk meraih kesuksesan dan kebahagian, tak lepas dari dukungan para sahabat. Ivan Gunawan, seorang desainer yang tak pernah mengenyam pendidikan fashion, yang gigih dan bekerja keras mencapai cita-citanya, apa pun penilaian orang lain. Sosok pribadi yang hangat, rendah hati, dan pantang berbasa-basi, kini menapaki jalan kesuksesan tanpa mengenal lelah. Semuanya dapat kita simak dalam buku yang ditulis Ivan Gunawan berjudul “Aku Berkarya dengan Cinta” ini, Sebuah buku dengan jelujur tuturan dalam rangkaian gambar cantik dan bahasa lugas yang pasti sudah akrab dengan telinga kita.
***

Buku setebal 260 halaman ini terbagi dalam sepuluh bagian. Bagian pertama, Lilin Kecil, yang membahas mulai dari keluarga Ivan sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara—kakak pertamanya Emma Sadyani dan kakak keduanya Indra Cahya Gunawan—yang kompak bertubuh subur, lahir dari pasangan Emma Gunawan dan Bambang Cahya Gunawan. Ivan lahir pada tanggal 31 Desember 1981. Kemudian, Ivan mencatat masa kecil sebagai masa paling indah. Di masa kecil itulah ia menemukan jati diri, meski belum menyadarinya. Ia tinggal bersama orangtua dan kakek-nenek yang pengusaha kuliner di rumah yang sekaligus menjadi restoran, yakni Resto Mendawai dan butik pamannya, Adjie Notonegoro. Kedua bisnis yang menghidupi keluarganya menginspirasi jalan hidupnya menjadi selebritas, yang sekaligus fashion designer.

Kedua, My Life, Your Life, Our Lives, memuat berbagai pendapat dari para artis maupun orang-orang terdekat Ivan tentang Ivan dan kemudian Ivan memberi catatan pendapat mereka, mulai dari Titiek Puspa, Panca Makmun, Titi Yudi, Okto, Ina Thomas, Titi DJ, Lieke Gunawan, Krisdayanti, Rinaldy A Yunandi, Ruben Onsu, Junita Liesar, Adeaagi Kirana, Iis Dahlia, Eko Patrio, Camelia Malik sampai Indra Yudhistira.

Ketiga, Butik, memuat perjalanan Ivan mengelola butik, mulai dari “belajar” secara otodidak pada pamannya; Adjie Notonegoro, sampai memiliki butik sendiri. Dalam mengelola butik dan sekaligus workshop, Ivan mempunyai 35 karyawan. Yang menarik dari bagian ini adalah cara pandang Ivan terhadap karyawan pegawai butiknya. “Mereka tidak pantas disebut pegawai karena bagi saya mereka adalah keluarga”. (halaman 54)

Keempat, Parade Gaya, yang memuat berbagai rancangan busana karya Ivan, mulai dari Amazing Sparkling, Sofistika Gaya, Symphony of My Dream, Her Majesty, La Reve du Luxe, Misterious Regal, Kedjora, Beautiful Liar, Malolo, The Gentelmen, sampai Manjula. Di bagian ini lebih banyak gambar yang berbicara. Sedangkan Ivan menguraikan ide rancangannya tampaknya hanya seremonial belaka.

Kelima, A Dear of Mine, memuat berbagai pendapat para artis mengenai karya rancangan Ivan, mestinya bagian ini digabung dengan bagian keempat, sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Keenam, Kebaya, memuat hasil rancangan Ivan yang mengkhususkan pada kebaya. Pengkhususan ini menjadi hak prerogatif Ivan sebagai penulis, tapi kita perlu juga mengkritisi karena kalau bagian-bagian ini disatukan tentu menjadi lebih utuh.

Ketujuh, Love, memuat lebih khusus dan rinci mengenai karya rancangan Ivan yang diberi label “Love”, yakni koleksi baju pengantin yang ia luncurkan pada saat gelaran acara “Jakarta Fashion Week 2009”. Dalam bagian ini, kita bisa menyimak lebih dalam gaya rancangan Ivan.

Kedelapan, Media Darling, memuat berbagai karya rancangan Ivan yang kemudian menjadi cover majalah mode, betapa Ivan begitu senang. Tapi uniknya, Ivan menyelipkan pendapatnya yang tampak memberi apresiasi khusus pada fotografi, bahwa desainer tak sama dengan tukang jahit. Desainer adalah seorang seniman, yang ketika mengeluarkan karya, karyanya dapat dikawinkan dengan berbagai karya seni lainnya. Fotografi adalah salah satu contohnya. (halaman 199)

Kesembilan, Celeb, memuat tentang para selebritas yang membuat karya rancangan Ivan dapat dikenal luas, tak hanya di dalam negeri, tapi juga luar negeri. Seperti di antaranya, Tiga Diva dan Rosa yang membawa karyanya ke Asia. Di bagian ini juga disertakan Ayu Ting Ting, yang sempat diisyukan dekat dengan Ivan.

Terakhir, kesempuluh, Styling Tips, yang memuat gaya busana pesta rancangan Ivan dengan disertai berbagai tips pemakaiannya. Juga disertakan akreditasi yang memuat berbagai konsep dan rancangan Ivan.
***

Membaca buku ini, kita bisa mengenal lebih dekat sosok Ivan Gunawan dengan karya rancangannya dan berbagai pendapat dari para artis serta jejak totalitasnya sebagai selebritas. Kita tentu patut memberi apresiasi pada Ivan yang mau menuliskan kisah hidup dan karya rancangannya. Ivan memang selebritas yang tentu dikenal masyarakat, tapi tampaknya Ivan menyadari betul bahwa terkenal dalam hidup itu tidak cukup. Dengan menulis buku ini, sebagaimana pernah dituturkan sastrawan Pram, Ivan menuliskan keabadian. (Akhmad Sekhu)

Judul Buku : Aku Berkarya dengan Cinta
Penulis : Ivan Gunawan
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : 2015
Tebal : 260 halaman
Harga : Rp. 295.000,-

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts