Serunya Acara Bedah Novel ‘Ababil dan Tiga Kitab Iblis’ Karya Irfan Wijaya

Serunya Acara Bedah Novel ‘Ababil dan Tiga Kitab Iblis’ Karya Irfan Wijaya

Penggiat Perfilman Indonesia (PPI) menggelar acara bedah novel ‘Ababil dan Tiga Kitab Iblis’ karya Irfan Wijaya di Lantai 5 Gedung Film, Jl. MT Haryono Kav. 47-48 Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (18/11/2015). Acara bedah buku Mengusung tema ‘Dari Buku Menuju Film’, acara bedah novel ini menghadirkan para pembicara yakni Karsono Hadi (sutradara), Endik Koeswoyo, Radhar Pancadahana (sastrawan dan budayawan), Ody Mulya Hidayat (produser) dan Irfan Wijaya (penulis novel) serta Mayong Suryolaksono sebagai moderator.

PENGALAMAN
Irfan, sang penulis novel ini, diberi kesempatan pertama bicara. Ia lebih banyak mengungkap proses kreatif penulisan novelnya. “Saya menulis novel ini berdasarkan pengalaman saya menjadi seorang wartawan lepas, “ katanya.

Lebih lanjut, Irfan menerangan, bahwa penulisan buku ini cukup lama sekitar enam bulan. “Saya mengisahkan Bintang adalah seorang wartawan lepas yang sedang mengalami konflik batin setelah dirinya sadar banyak hasil karyanya yang meraih berderet penghargaan, namun didapatkannya melalui cara tidak benar, “ ungkapnya.

Irfan berharap novelnya mendapat sambutan dari masyarakat. “Saya sudah berkarya dan semoga masyarakat menyambut baik novel ini, “ pungkasnya.

Kemudian, Radar Pancadahana bicara mengenai berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat yang kebanyakan masih percaya pada hal-hal mistis dan klenik. Setelah itu, Karsono Hadi membahas novel ini dari sudut pandang dirinya sebagai seorang sutradara yang kini tengah menyutradarai sinetron striping ‘7 Manusia Harimau’ yang tayang setiap hari di RCTI. Begitu juga dengan Endik Koeswoyo yang cukup jeli mencermati fenomena adaptasi dari novel ke film. “Biasanya novel yang diangkat ke film adalah novel best seller yang telah mengalami beberapa kali cetak ulang sampai terjual kurang lebih seratus ribu eksemplar, “ katanya.

MENARIK
Terakhr, Ody Mulya Hidata, produser film Maxima Pictures, yang menyambut baik penerbitan buku ini. “Ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Temanya cukup menarik mengenai ‘Ababil dan Tiga Kitab Iblis’. Apapun bukunya kalau memang best seller dengan sendirinya sudah ada pembaca setianya yang tentu sekaligus bisa mendatangkan penonton. Saya optimis novel yang sudah filmis ini cukup untuk mudah diangkat ke film layar lebar. Yang penting kita dapat mengemasnya dengan baik, “ papar Ody panjang lebar.

Ody mengaku saat ini masih ada tujuh novel yang siap diangkat ke film layar lebar oleh Maxima Pictures. “Kita sedang menyiapkan tujuh novel yang siap diangkat ke film layar lebar. Jadi Mas Irfan harus sabar ya, “ Ody memungkasi pembahasannya seraya melirik Irfan Wijaya.

Novel ini berkisah tentang pertemuan aneh di gapura Bajang Ratu antara Bintang dan Ben Portman yang ternyata menjadi awal dari peristiwa-peristiwa menegangkan berikutnya. Bintang adalah seorang wartawan lepas yang sedang mengalami konflik batin setelah dirinya sadar banyak hasil karyanya yang meraih berderet penghargaan, namun didapatkannya melalui cara tidak benar. Saat kerusuhan Manggarai pecah, Bintang bertemu dengan Jon, seorang preman penguasa kawasan Manggarai, Jakarta Pusat. Aksi saling menyelamatkan mempertemukan mereka pada jalin persahabatan.

Secara tak sengaja, Bintang dan Jon direkrut oleh Laskar Ababil, kelompok pembela kebenaran yang berperang melawan Para Pemuja, kelompok pengusung panji-panji kegelapan. Laskar Ababil bekerja keras menggagalkan usaha Para Pemuja yang sangat berambisi merebut Kitab Biru dari Laskar Ababil. Kitab Biru adalah sumber rahasia kekuatan kegelapan yang diidamkan Ben dan Para Pemuja. Kitab jahat ini tak boleh jatuh di tangan Para Pemuja. Bagaimana pun caranya.

Setelah acara bedah buku yang cukup seru di Gedung Film ini, rencananya akan melakukan roadshow bedah buku ke kampus-kampus. Kita tentu patut memberi apresiasi pada Irfan yang sudah menulis novel ini. Dengan menulis novel ini, sebagaimana pernah dituturkan sastrawan Pram, Irfan menuliskan keabadian. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts