Livi Zheng Raih Penghargaan Diaspora Creative Awards 2015

Livi Zheng Raih Penghargaan Diaspora Creative Awards 2015

Artis Indonesia yang go Internasional dalam industri film Hollywood, Livi Zheng meraih penghargaan Diaspora Creative Awards 2015 dalam Kongres ke-III Diaspora Indonesia. Sebuah penghargaan yang didapatkan karena prestasinya yang gemilang dalam dunia kreatif perfilman. Artis yang juga stuntwomen, penulis skenario, sutradara dan produser kelahiran Blitar, 3 April 1989 ini memang Diaspora Indonesia yang telah mengukir namanya di Hall of Fame dunia perfilman: Hollywood. Film ‘Brush with Danger’ yang ditulis, dibintangi dan disutradarainya masuk daftar nominasi Academy Award ke-87 yang dihelat awal tahun ini dan rencananya akan dirilis di Indonesia pada bulan November 2015.

Tampaknya Livi Zheng mengaku tak menyangka karyanya bakal diapresiasi sedemikian tinggi. “Saya cukup terkejut. Karena banyak anak muda lain juga berprestasi di luar sana,” kata Livi Zheng kepada wartawan seusai mendapat penghargaan dalam Kongres ke-III Diaspora Indonesia, di Bidakara Convention Center, Kamis (13/8/2015).

Lebih lanjut, Livi menerangkan, “Bekerja sama dengan film makers Hollywood itu harus kuat mental. Kritik keras datang bertubi-tubi. Tapi saya tetap tidak menyerah.”

Wanita periang ini mudik ke Tanah Air setelah lama melanglang buana di Amerika Serikat. Sebelumnya, dia lama menetap di Beijing, China. Walaupun sudah lama tinggal di Amerika Serikat, dia tetap mencintai Indonesia dan tidak berencana pindah kewarganegaraan.

“Aku enggak ngambil green card. Soalnya aku cinta Indonesia,” tegasnya.

Selain Livi, dalam kongres yang mengusung tema ‘Diaspora Bakti Bangsa’ ini menghadirkan B.J. Habibie (mantan presiden RI ke-3 yang menjadi warga kehormatan Jerman), Iwan Sunito (pemiliki Crown Group, perusahan properti besar di Sydney), Ridwan Kamil (walikota Bandung, ex-Diaspora yang pernah tinggal di Amerika Serikat) dan Shamsi Ali (seorang muslim yang “well known” sebagai imam di kota New York, USA). Kongres ini mengedepankan isu dwi-kewarganegaraan, industri penerbangan, ekonomi kreatif, serta global entrepreneur. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts