Kisah Mata-Mata Bermoral

Kisah Mata-Mata Bermoral

Film in berangkat dari serial tv di awal 1960an. Nama Guy Ritchie sebagai sutradara sekaligus penulis scenario menjadi taruhannya. Ia menggabungkan gaya pertarungan ala Bourne dan penampilan klasik Bond. Ceritanya juga jauh dari kekerasan verbal bahkan berisi pesan moral “kasihila musuhmu”.

Cerita mengacu pada aksi dua orang mata-mata, yakni agen CIA Napoleon Solo (Henry Cavill) dan agen KGB Ilya Kuryakin (Armie Hamer). Keduanya bekerja sama dalam misi rahasia berkode U.N.C.L.E (United Network Command for Law and Enforcement). Tujuannya untuk menghadapi organisasi kejahatan yang memproduksi senjata nuklir.

Dua agen ini harus mengesampingan nasionalisme mereka demi menuntaskan misi ini. Persaingan diantara mereka semakin diperpanas dengan kehadiran Gaby Teller (Alicia Vikander) seorang pedagang senjata yang sensual.

Ceria pun mengalir dengan dialog yang klise dan adegan yang bergaya retro. Adegan pertarungan dan sensualitas juga ditampilkan dengan halus. Para aktor juga menampilkan kinerja yang baik. Chemistri antara Cavill dan Hammer sebagai agen yang saling membutuhkan sekaligus tidak menyukai satu dengan lain cukup kuat. Kemitraan yang aneh dengan ketrampilan masing-masing menjadi pemikat di setiap adegan. Demikian juga penampilan Vikander yang memberikan penampilan feminine dan sensual untuk melengkapi aksi para agen yang kaku.

Di tangan Ritchie cerita spinoase terasa segar dan penuh kejutan. Konsep utama cerita ingin menyajikan filosofi kasihilah sesama manusia termasuk kasilihilan musuhmu menjadi tema utama dari film ini. Sungguh berbeda dari film mata-mata yang lebih mengedepankan aksi kekerasan dan penghancuran akan musuh. Bahkan di film ini bahasa kotor, sumpah serapah tidak ada. Sungguh film mata-mata dengan nilai moral berbeda.

About The Author

Stevy Widia memulai kariernya sebagai wartawan di Suara Pembaruan (1999-2010). Sejumlah penghargaan di bidang penulisan diperoleh untuk penulisan sejumlah artikel musik, film dan gadget, termasuk menjadi nominasi sebagai kritik film untuk Festival Film Indonesia 2005. Peraih penghargaan Anugerah Pesona Wisata Indonesia 2009 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata juga sempat dipercaya menjadi juri untuk MTV Music Award periode 2005-2006, dan Festival Film Jakarta 2006.

Related posts