Review Buku Menyublim Hingga Rahim, Parade Karya Para Jawara

Review Buku Menyublim Hingga Rahim, Parade Karya Para Jawara

Kita tentu menyambut baik penerbitan buku naskah lakon bertajuk “Menyublim Hingga Rahim”. Sebuah buku yang bisa dibilang parade karya para jawara karena memang berisi karya lima pemenang lomba penulisan naskah lakon berbasis cerpen yang digelar Taman Budaya Yogyakarta pada 2005. Nama-nama seperti Anton Sumartana, Bagus Sumartono, Luh Arik Sariadi, Ratih Kumala dan Yan Widjaya yang mengadaptasi cerpen-cerpen karya Hamsad Rangkuti, Emha Ainun Nadjib, Cok Sawitri dan Ahmad Tohari, menjadi jaminan buku ini dalam artian yang menjadi daya tarik untuk kita berminat menyimaknya.

Dalam buku setebal 142 halaman itu, kita dapat menyimak parade karya para jawara, mulai dari “Menyublim” yang diadaptasi Bagus Sumartono dari cerpen Hamsad Rangkuti berjudul “Pispot”. Kemudian, “Lelaki ke 1.000 di Ranjangku” adaptasi Yan Widjaya dari cerpen berjudul sama karya Emha Ainun Nadjib, “Primadona Wisma Pasar Daging” adaptasi Anton De Sumartana dari cerpen berjudul sama karya Emha Ainun Nadjib, “Rahim” adaptasi Luh Arik Sariadi dari cerpen berjudul sama karya Cok Sawitri, sampai “Kang Sarpin Minta Dikebiri” adaptasi Ratih Kumala dari cerpen berjudul sama karya Ahmad Tohari.

Indra Tranggono sebagai editor memberi catatan berjudul ‘Transformasi Estetik Cerpen ke Lakon’, bahwa penulis menafsirkan cerpen menjadi treatment atau urutan adegan yang berdasarkan alur cerita/persoalan. Masing-masing adegan telah diolah menjadi peristiwa dramatik yang berkaitan dengan ruang, waktu, tokoh, tindakan tokoh, persoalan dan suasana. Dibutuhkan kekuatan logika estetis-visual dan imajinasi untuk menciptakan berbagai adegan, sehingga mampu menghadirkan “teater dalan kepala” bagi pembaca. (hal xi). Menarik sekali, catatan Indra yang menyebut “teater dalan kepala”, yang bisa beragam tafsiran. Apakah ini masih sebatas “konsep” yang kemudian memang harus diterjemahkan sutradara teater dalam pemanggungan?

Lebih lanjut, Indra menyebut penulisan naskah lakon yang berbasis cerpen belum lazim, untuk tidak menyebutnya sama sekali baru. Sebuah usaha yang memang patut diapresiasi, dan berharap ada pembaca yang tak hanya tertarik menyimak, tapi juga memanggungkannya.

Judul-judul naskah lakonnya juga tidak lazim yang terkesan unik, “Menyublim” sebuah kosa kata baru yang tentu jarang kita dengar dalam keseharian. Usaha penulisan naskah lakon ini memang unik dan juga kreatif karena mencoba kosa kata baru untuk dapat kita simak. Adapun dua naskah lakon yang bersumber dari sebuah cerpen juga tidak kalah menariknya. Penulis naskah lakon tampaknya mempunyai perspektif yang berbeda-beda dalam menafsir sebuah karya cerpen. Memang tidak semua isi kepala orang sama pemikirannya. Ada kebaruan dan selalu baru dalam setiap kita menyimak sebuah karya.

Adapun dibanding penulis novel, penulis naskah lakon bisa dibilang masih sedikit sekali jadi terbitnya buku ini menjadi semacam ada secercah harapan untuk perkembangan penulis naskah lakon ke depan yang lebih gemilang. Semoga. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts