Film Kucing Yang Bukan Tentang Kucing

Film Kucing Yang Bukan Tentang Kucing

Sineas Thailand memang tidak pernah kehabisan ide membuat tema unik dalam film-filmnyaSeperti yang disuguhkan dalam film Cat A.W.O.L. Film drama komedi ini menjadikan kucing-kucing lucu sebagai daya tarik utama.

Adalah Mayo (Pimchanok “Baifern” Leuwisetpaiboon), mahasiswi cantik namun sering kekurangan uang. Demi melengkapi kebutuhan perkuliahannya, Mayo mendaftar sebagai anak magang di kantor agensi periklanan milik sutradara Dode (Ten Terdterng) dan sinematografer Fiat (Nong Cha-cha-cha). Namun yang terjadi, baru hari pertama masuk, ia sudah naksir dengan mentornya sekaligus asisten sutradara yang ganteng, Mor (Arak “Pe” Amornsupasiri).

Suatu hari, Mor mendapat tantangan. Ia harus berhasil menjadikan kucing milik klien sebagai bintang utama dalam iklan produk mie instan. Bila berhasil bekerja sama dengan kucing bernama Johnny ini, Mor akan diangkat menjadi sutradara yang baru. Untuk itu, Mayo pun ditugaskan Mor untuk melatih kucing yang sangat nakal ini.

Terlibat di proyek sama, bikin keduanya makin dekat. Mayo pun berharap bila Mor punya perasaan sama dengannya. Namun suatu hari, Mor bertemu dengan sang mantan dan membuat dia nelangsa. Akibatnya, Mayo pun merasa bertepuk sebelah tangan.

Belum selesai masalah patah hati ini, timbul perkara baru. Johnny menghilang! Seluruh karyawan harus menemukan Johnny sebelum sang klien marah besar. Untuk itu, Mor dan Mayo harus mencari keberadaan Johnny, sekaligus menetapkan kembali status hubungan mereka.

Meski bercudul Cat A.W.O.L, bukan berarti film arahan sutradara Pongsak Pongsuwan dan Nareubadee Wetchakam ini hanya tentang kucing. Justru mereka membangun cerita sederhana dari hubungan antara manusia yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hubungan dengan rekan kerja, kerja keras, dan romantisme. Alur cerita yang bercabang meski tetap tertebak.

Dengan komedi khas sehari-hari, film romantis ini berhasil menghadirkan gelak tawa penonton secara spontan, tanpa dipaksakan.

About The Author

Stevy Widia memulai kariernya sebagai wartawan di Suara Pembaruan (1999-2010). Sejumlah penghargaan di bidang penulisan diperoleh untuk penulisan sejumlah artikel musik, film dan gadget, termasuk menjadi nominasi sebagai kritik film untuk Festival Film Indonesia 2005. Peraih penghargaan Anugerah Pesona Wisata Indonesia 2009 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata juga sempat dipercaya menjadi juri untuk MTV Music Award periode 2005-2006, dan Festival Film Jakarta 2006.

Related posts