Yayan Ruhian Bangga Bintangi Film Yakuza Apocalypse

Yayan Ruhian Bangga Bintangi Film Yakuza Apocalypse

Lagi, seorang aktor Indonesia go internasional. Kali ini, Yayan Ruhian membintangi film ‘Yakuza Apocalypse’. Sungguh sangat membanggakan bagi aktor yang terkenal lewat film ‘Merantau’ dan ‘The Raid’ ini disutradarai langsung oleh Takashi Miike, sutradara legendaris asal Jepang. Yayan menjadi satu-satunya aktor Indonesia yang bermain dalam film fantasi yang mengisahkan tentang seorang yakuza vampir.

“Saya sangat bangga bisa di-direct langsung sama Takashi Miike. Saya diajak main dalam film ini tanpa casting,” kata Yayan saat press screening film ‘Yakuza Apocalypse’ di Plaza Semanggi, Jakarta Pusat, Senin (29/6/2015) petang.

Lebih lanjut, lelaki yang akrab dipanggil Kang Yayan, ini menerangkan karakter yang dilakoni dalam film ini merupakan gabungan dari dua karakter, yakni Otaku dan Yakuza. “Saya sebagai Kyoken, yang menjelma dari dua karakter Otaku dan Yakuza,” terang Yayan.

Demi mendalami perannya, Yayan pun mengunjungi Akihabara yang dikenal sebagai surga otaku karena menjadi pusat perbelanjaan anime maupun manga. “Otaku itu karakter yang culun dan lugu… Di Indonesia memerankan orang culun gampang karena bisa terbayang, bagaimana dengan di Jepang?” ungkapnya.

Dua kali berkunjung ke Akihabara, pelatih Perguruan Silat Tenaga Dasar itu mengamati gerak-gerik dan penampilan para otaku agar dapat menyuguhkan akting yang meyakinkan.

Penampilannya yang sangar sebagai Mad Dog di “The Raid: Redemption” berubah total menjadi Kyoken yang culun dan tidak modis lengkap dengan ransel berisi belanjaan poster anime serta pernak-pernik bergambar budaya populer Jepang. Namun, Kyoken bukan otaku biasa. Keluguannya hanyalah kedok di balik kemampuan bela diri yang luar biasa untuk berkelahi dengan para yakuza.

“Dari awal saya tertarik dengan dua karakter itu, ternyata digabung. Saya senang karena karakter-karakter itu berlawanan,” pungkasnya.

“Yakuza Apocalypse” berkisah tentang seorang yakuza kelas rendah bernama Akira Kageyama (Hayato Ichihara) yang tak bisa mentato tubuhnya karena masalah kulit yang dimilikinya. Suatu hari ia digigit oleh seorang vampir yang ternyata adalah bosnya sendiri. Akira kemudian berhadapan dengan Kyoken yang diperankan oleh Yayan Ruhian, salah satu anggota geng pembunuh internasional.

Yayan mendapat porsi peran cukup besar, dia tampil di duel-duel penting dalam film. Kehadirannya sekaligus jadi warna baru, karena dia satu-satunya aktor dari luar Jepang dalam film ini. Karakter yang diperankannya pun penuh pesan tersirat. Sebagai jagoan berwajah Melayu, Kyoken justru seorang anime-otaku. Sebuah citra bahwa invansi budaya Jepang sudah merajalela. Seperti di film-film Yayan sebelumnya, karakter tenang sekaligus beringas akan tampak dalam film ini.

Film ini sudah lebih dulu rilis di Jepang pada 20 Juni 2015. Film yang juga tayang di Festival Film Cannes pada Mei silam itu dibintangi jejeran aktor Jepang seperti Hayato Ichihara, Riko Narumi, Lily Franky dan Reiko Takashima. Sementara untuk peredaran di Indonesia didistribusikan oleh Pratama Film mulai 1 Juli 2015 di bioskop Cinemaxx. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts