Kisah Dramatis Mengejar Ngejar Mimpi Jadi Penulis

Kisah Dramatis Mengejar Ngejar Mimpi Jadi Penulis

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Oleh karena itu, kita tentu patut berguru pada pengalaman agar kita arif bijaksana dalam menyikapi dan menjalani kehidupan. Tapi bagaimana kalau pengalaman yang kita alami itu unik, kocak, penuh suka-duka, kaya warna, bahkan inspiring tentu lebih patut lagi kalau dituliskan dalam bentuk buku. Apalagi kalau impiannya yang benar-benar dikejarnya menjadi seorang penulis. Demikian yang tersirat dari buku ‘Mengejar Ngejar Mimpi’ karya Dedi Padiku.

Dalam buku ini Dedi begitu jujur menjelujurkan berbagai pengalaman yang dialaminya, mulai dari bagian pertama, dia sekolah di SMK Gorontalo yang hari pertamanya dianggapnya sebagai hari paling sial kaena harus menuliskan nama panjangnya dengan pantat sehingga badannya meliuk-liuk mengalahkan goyang India! Karena nama aslinya yang paling panjang; Mohamad Febri Padiku, jadi dialah yang paling lama bergoyang dan tentu paling lama menjadi bahan tertawaan seluruh anak-anak sekolah. Selanjutnya, ia dikerjai kakak kelasnya untuk mencari seorang siswi, yang kisahnya begitu dramatis seperti kisah Tao Ming Tse dan San Chai dalam drama Korea “Meteor Garden”.

Kemudian, Dedi mendedahkan tentang tempat favorit di sekolah, ada cinta di belakang sekolah, yang melanjutkan kisahnya dengan seorang siswi cantik bernama Iyen. Dedi juga cerita tentang dua sahabatnya, teman sebangkunya di sekolah. Putus cinta dan pengasingannya. Semuanya tentang kisah suka-dukanya di sekolah.

Dari bagian buku 1 Dikejar-kejar Mimpi beralih ke bagian buku 2 yaitu Mengejar Ngejar Mimpi, dimulai dari mimpinya bisa bekerja di Jepang seperti tetangganya yang sukses, gagal seleksi ke Jepang kemudian jadi kuli bangunan, setelah itu berubah cepat jadi staf ahli di dewan, maksudnya staf ahli mengemudi alias sopir. Sempat juga kuliah tapi tak tamat. Kemudian, ke Jakarta, bekerja di jasa laundry tanpa mesin, kemudian nyaris jadi teroris, beralih jadi kuli bangunan, hingga kemudian masuk ke gerbang jadi penulis dengan bertemu banyak penulis. Sebuah mimpi yang diperjuangkan hingga berbuah manis mampu menerbitkan buku ini.

Dedi menuls buku ini tampak begitu lepas-bebas, bahkan tanpa tendensi apa-apa. Apa yang ditulisnya jujur apa adanya. Kalaupun terlihat konyol tentu tidak bermaksud untuk menghina-dina dirinya, bahkan ia seperti sedang menertawakan dirinya sendiri. Inilah cara yang paling ampuh untuk mengobati penderitaan. Dari situ ia bercermin untuk berbuat yang lebih baik dari pengalaman-pengalaman yang pernah dialaminya.

Dari sampul buku tertera stempel ‘National Best Seller’ karena buku ini memang cetak ulang berturut-turut setiap bulan. Seperti sebuah bonus tentang pengalaman hidup yang dituliskan, yang artinya lebih banyak orang membacanya. Kemudian, di bawahnya ada stempel ‘Segera Difilmkan’ tampaknya semakin membuat orang berminat membacanya bagi orang yang benar-benar hobi membaca, tapi akan menjadi bumerang bagi orang yang tidak hobi membaca karena menjadikan orang tipe ini tidak mau membaca karena menunggu filmnya. Padahal bahasa tulis dengan bahasa gambar punya dimensi yang berbeda. Dengan membaca buku, kita diberi keleluasaan untuk merasakan, membayangkan bahkan merenungkan. Sedangkan kalau nanti menonton film, kita seperti didikte untuk menyaksikan tontonan yang digarap sutradara. Tentu lebih lengkap dan bijak, kalau kita membaca buku ini dan menonton filmnya. (Akhmad Sekhu)

Judul : Mengejar-Ngejar Mimpi
Penulis : Dedi Padiku
Penerbit : AsmaNadia Publishing House
Cetakan : Keempat, Desember 2014
Halaman : 324 halaman
Genre : Novel motivasi

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts