Rayakan HUT ke-25, Plaza Indonesia Gelar Festival Film Bertema Perempuan

Rayakan HUT ke-25, Plaza Indonesia Gelar Festival Film Bertema Perempuan

Merayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke-25, Plaza Indonesia menggelar sebuah festival film yang diberi nama ‘Plaza Indonesia Film Festival’ (PIFF). Dalam gelaran festival film yang untuk pertama kalinya, ini PIFF mengangkat tema perempuan (Celebrating Women). PIFF dilaksanakan pada tanggal 26-29 Mei 2015 di Cinema XXI Plaza Indonesia.

BANGGA
“Plaza Indonesia dengan bangga untuk pertama kalinya mengadakan Plaza Indonesia Film Festival sebagai dukungan terhadap industri kreatif Indonesia yang kali ini kami fokuskan kepada industri perfilman Indonesia. Kami ingin mengangkat film-film Indonesia berkualitas hasil karya talenta sineas Indonesia,” kata Zamri Mamat selaku General Manager Marketing & Communications PT Plaza Indonesia Realty, Tbk, saat acara jumpa pers Plaza Indonesia Film Festival (PIFF), di Cinema XXI Lounge, Plaza Indonesia, Jl. MH. Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2015) petang.

Lebih lanjut, Zamri menerangkan, “Kami berharap melalui Plaza Indonesia Fim Festival ini pengunjung Plaza Indonesia dapat mengenal lebih jauh film-film Indonesia hasil karya talenta sineas Indonesia dan semakin terhibur dengan adanya pilihan film alternatif dari Indonesia maupun mancanegara.”

Menurut Zamri, ke depannya Plaza Indonesia ingin membuat festival ini lebih besar lagi. “Ada nominasi dan penghargaan. Namun, saat ini kita mengadakan yang kecil dulu,” ungkap Zamri.

“Kita bekerjasama dengan komunitas Publikultur untuk kurasi. Permasalahan dari setiap film di PPFI ini relevan dengan isu perempuan modern jaman sekarang. Karena film itu bahasa universal, yang bisa menikmati oleh semua kalangan. Kebetulan enam film itu mewakili tema kita yakni tentang peremuan,” pungkasnya.

HARAPAN
Robby Ertanto sutradara 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita tak menyangka kalau filmnya yang sudah tayang 2011 silam bisa masuk dalam festival tersebut. “Ini kan film lama, tapi saya seneng banget dan bangga film saya bisa masuk festival ini” ujar Robby.

Senada dengan Robby, Dodid Widjanarko sutradara film Au Lorun juga turut senang filmnya mendapatkan sambutan baik dengan masuk dalam festival tersebut. “Semoga kesederhanaan film ini bisa dinikmati di festival ini. Saya senang film ini bisa masuk festival,” ujar Dodid.

Dodid berharap apa yang dilakukan oleh Plaza Indonesia dapat terus berkelanjutan. Dalam arti, memiliki kontinuitas setiap tahunnya. Pasalnya, Dodid berpendapat film-film Indonesia masih banyak membutuhkan wadah untuk mendapatkan apresiasi. “Terima kasih sebesar-besarnya kepada Plaza Indonesia, semoga apa yang sudah dilakukan hari ini itu tidak berhenti sampai hari ini. Tapi, terus berkelanjutan, karena film kita membutuhkan sebuah tempat untuk diapresiasi oleh masyarakat luas. Sehingga ke depan saya berharap bahwa Plaza Indonesia Film Festival selalu ada,” harap Dodid.

MENARIK
PIFF menayangkan film dokumenter Indonesia berjudul ‘Au Lorun’ karya Dodid Wijonarko dan film Perancis berjudul ‘Two Days, One Night’ (2014) yang dibintangi oleh aktris asal Prancis, Marion Cotillard. Film besutan sutradara Jean-Pierre Dardenne dan Luc Dardenne ini berhasil masuk dalam nominasi untuk kategori Best Actress Performance in a Leading Role pada Academy Awards ke-87 tahun 2015.

Yang tak kalah menarik, PIFF juga menayangkan film Indonesia tentang perempuan lainnya, seperti Siti (2014), yang akan pertama kali tayang di bioskop Indonesia dan baru saja memenangkan Best Performance di Singapore International Film Festival 2014. Lalu ada film Selamat Pagi, Malam (2014), dan 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (2011).

Sebagai pelengkap, ada pula film drama musikal Hollywood berjudul The Last Five Years (2015). Film ini dibintangi oleh Anna Kendrick yang baru saja sukses dengan film musikal terbarunya Pitch Perfect (2015).

Selain festival film, Plaza Indonesia juga menggelar pameran foto tentang ibu bertajuk “Boxed in Love”. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts