Morgan Oey Membaca Leila S. Chudori

Morgan Oey Membaca Leila S. Chudori

“Dia tahu, saat matahari mengetuk pagi, akan ada sebuah perubahan besar. Dia tahu, ketika dia menguak tirai jendela, uraian sinar matahari bukan hanya sebagai tanda hari yang baru, tetapi juga ada nafas baru bagi dua orang di majalah Tera: Utara Bayu dan Kara Novena. Dia menatap undangan itu, undangan pernikahan Tara dan Vena. Di balik tirai, Jakarta masih berwarna hitam. Jarum Jam menunjukkan pukul empat pagi. Satimin merasa matanya pedih. Sepanjang malam, dia tak bisa lelap….” demikian cuplikan cerpen berjudul ‘Sebelum Matahari Mengetuk Pagi’ karya Leila S. Chudori yang dibacakan oleh Morgan Oey.

Bintang film ‘Assalamualaikum Beijing’ dan mantan personal boyband SM*SH itu membacakan cerpen tersebut dengan suara yang dalam dan tenang. Tampaknya ia sangat menghayati karya cerpen yang dibacanya. Ia memang menyukai sastra karena rangkaian kata yang indah.

seru
“Keseruan baca sastra enggak jauh beda sama novel fantasi. Salah banget kalau bilang sastra membosankan dan tua,” kata Morgan Oey dalam acara diskusi buku ‘Perempuan dan Keluarga dalam karya Lelila S. Chudori yakni Malam Terakhir, Pulang dan Nadira’ di Gramedia Central Park, Jakarta Barat, Sabtu (25/4/2015).

Lebih lanjut, Morgan menerangkan bahwa dirinya menyukai aktivitas membaca sejak kecil. Dahulu, ia memang lebih tertarik pada komik dan novel fantasi. Namun semakin bertambahnya umur, ia kini mulai mencoba bacaan yang lain. “Pertama coba baca kumpulan cerpen karya Leila S. Chudori. Dan yang saya suka setelah baca sastra kita seperti diajak merenung,” terangnya.

Menurut Morgan, ke depannya, ia ingin lebih mengenal dunia sastra. “Aku kan masih baru banget suka sastra. Jadi ingin baca lebih banyak buku lagi. Mungkin juga ingin ikut komunitas-komunitas buku,” tandasnya.

eksil politik
Pembacaan cerpen tersebut dalam rangkaian acara diskusi buku ‘Perempuan dan Keluarga dalam karya Lelila S. Chudori yakni Malam Terakhir, Pulang dan Nadira’ dengan menghadirkan Leila S. Chudori, Maman Suherman dan Christina.

Leila banyak membahas proses kreatif dalam karya-karyanya; Malam Terakhir, Pulang dan Nadira. Terutama pada karya novelnya ‘Pulang’, yang berawal dari perkenalannya dengan orang Indonesia di Perancis yang jadi eksil politik sehingga tidak bisa pulang ke Indonesia. Karya-karyanya banyak diterjemahkan dan mendapat penghargaan, seperti di antaranya; kumpulan cerpennya “Malam Terakhir” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman “Die Letzie Nacht (Horlemman Verlag)”. Pada tahun 2013, novelnya ‘Pulang’ mendapat Penghargaan Khatulistiwa Literary Award. Kumpulan cerpennya: ‘9 dari Nadira’ juga mendapat Penghargaan Sastra Badan Bahasa Indonesia.

Menurut almarhum kritikus sastra HB Jassin, yang terpenting dalam karya Leila adalah keberaniannya mengangkat tema kontroversial dalam masyarakat tradisional Indonesia. Baginya dalam membuat sebuah karya penting untuk membuat karakter yang kuat, baik itu hero ataupun antihero. Disamping itu, riset juga merupakan unsur penting dalam sebuah tulisan. Oleh karena itu, Leila selalu menekankan riset dalam setiap karya-karyanya.
Maman menyoroti bahwa dalam setiap karya Leila selalu ada dua hal, pertama, yaitu menggelorakan jiwa, dan kedua, yang menenangkan hati. Maman menilai bahwa Leila adalah sosok perempuan tangguh dan cerdas.

kembalinya anak emas sastra Indonesia
Sedangkan Christina, editor Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), menerangkan tahap dan proses penerbitkan buku-buku karya Leila. Pada tahun 2009, terbut buku kumpulan cerpen Leila berjudul ‘9 dari Nadira’ (yang oleh banyak kritikus sastra dianggap sebagai novel) dan penerbitan ulang buku ‘Malam Terakhir’ oleh KPG yang dilansir oleh harian Kompas sebagai “kembalinya anak emas sastra Indonesia”. Kemudian, tahun 2012 terbit novelnya; ‘Pulang”.

Acara ini sekaligus peluncuran buku kumpulan cerpen “Nadira” versi baru terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dengan penambahan dua cerpen baru yaitu “Sebelum Matahari Mengetuk Pagi” dan “Dari New York ke Legian”. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts