Monica Setiawan Percaya Karya yang Membuat Orang Terkenal

Monica Setiawan Percaya Karya yang Membuat Orang Terkenal

Apalah arti sebuah nama? Pertanyaan sekaligus pernyataan bijak dari sastrawan besar William Shakespeare tampaknya dipegang erat-erat artis belia nan manis Monica Setiawan. Pasalnya, dalam film-film yang dulu dibintanginya ia memakai nama Monica Sayangbati.

Memang apalah arti sebuah nama? Meskipun kita menyebut Monica Setiawan dengan nama lain, karirnya akan tetap dicatat dalam dunia perfilman Indonesia. Film-film yang dibintanginya; Pulau Hantu (2007), Rasa (2009), Mati Suri (2009), Amphibious (2009), Obama Anak Menteng (2010), Serdadu Kumbang (2011), 5 Elang (2011), Garuda di Dadaku 2 (2011), Kau dan Aku Cinta Indonesia (ACI) (2013), Bulan di Atas Kuburan (2015). Ia sering dapat nominasi Pemeran Anak-Anak Terbaik. Bahkan, ia membintangi Australia berjudul ‘Message Man’ karena ia pernah enam tahun tinggal di kota Dover, New Hampshire, Amerika, jadi fasih berbahasa Inggris. Kini ia mantap menyandang namanya Monica Setiawan.

“Ayah lebih suka Setiawan, “ kata Monica Setiawan kepada Moviegoers di sela-sela acara Gala Premiere Film ‘Bulan di Atas Kuburan‘ di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (11/4/2015) malam.

Lebih lanjut, gadis manis kelahiran Jakarta, 27 April 1998 itu menerangkan, “Menurut aku karya yang membuat orang terkenal.”

Dalam film ‘Bulan di Atas Kuburan‘, ia berperan sebagai Butet, adik sepupunya Sahat yang diperankan aktor watak Rio Dewanto. Seorang pria dari Pulau Samosir yang merantau ke Jakarta demi mewujudkan impiannya jadi penulis yang bukunya dibaca banyak orang. “Karena Sahat merantau ke Jakarta jadi Sahat menitipkan emaknya pada Butet yang saya perankan, “ ungkap anak Edwin Aldrin Sayangbati bangga.

Ketika ditanya mengapa tertarik dalam dunia perfilman? Dengan tenang, Monica menjawab, “Awalnya enggak tertarik karena pertama kali main masih kecil, yang penting bisa main dan senang. Tapi sekarang senang banget bisa main film.”

Orang tua Monica memang tidak membatasi kegiatannya dalam dunia perfilman. Mereka menyerahkan sepenuhnya kepada Monica selama itu bisa membuatnya nyaman. Apalagi orangtuanya sangat berjasa di awal karir Monica. Pasalnya sang ayah pula yang mengajaknya untuk ikutan casting di sejumlah film.

“Orang tua terserah aku, nyaman enggak sama peran yang bakal dimainkan. Mereka enggak begitu maksa harus gimana-gimana sih,” bebernya.

Monica sudah menekuni dunia akting sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Sampai saat ini, aktivitasnya dalam dunia perfilman tak mengganggu kegiatan belajarnya.

“Sekolah sih nggak keganggu,” tandasnya. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts