Sapardi Djoko Damono Luncurkan Buku ‘Trilogi Soekram’ & ‘Kelas Hujan Bulan Juni’

Sapardi Djoko Damono Luncurkan Buku ‘Trilogi Soekram’ & ‘Kelas Hujan Bulan Juni’

Sapardi Djoko Damono meluncurkan buku ‘Trilogi Soekram’. Sebuah buku yang berkisah tentang Soekram yang loncat keluar dari cerita dan menggugat sang pengarang yang tidak sempat menyelesaikan tulisannya karena telah wafat. Buku ini menunjukkan hubungan yang sangat kompleks antara pengarang dan tokoh cerita yang ditulisnya. Peluncuran tersebut berbarengan dengan diadakannya ‘Kelas Hujan Bulan Juni’ bagi para penggemar dan pecinta sastra Tanah Air.

“Tokoh ini ‘melompat’ dari buku lalu bertemu saya. Kemudian saya diminta menulis lagi tentang Soekram,” kata Sapardi Djoko Damono saat peluncuran buku ‘Trilogi Soekram’ di Gramedia Central Park, Jakarta Barat, Minggu (22/3/2015).

Lebih lanjut, Sapardi menerangkan, “Ketika saya menulis Soekram, muncul banyak pertanyaan dan teori yang selama ini diperdebatkan. Misalnya saja, Marah Rusli nulis Siti Nurbaya. Marah Rusli kan ciptaan Tuhan dan Siti Nurbaya ciptaan Marah Rusli, tapi siapa yang masih hidup? Nah, ide itu yang ada di pikiran saya.”

Buku ini terbagi dalam tiga bagian, yaitu bagian pertama mengambil latar belakang kerusuhan 1998. Kemudian, bagian kedua mengisahkan pengarang Soekram, yang dikira telah mati, ternyata masih hidup. Terakhir, di bagian ketiga, tokoh Soekram memilih untuk mengarang sendiri ceritanya. “Di sini ditulis tentang pertemuan Soekram dengan semua tokoh yang telah dibuat sebelumnya oleh penulis lain,” tuturnya.

Menurut, peraih penghargaan Akademi Jakarta untuk pencapaian bidang kebudayaan pada 2012 itu, ia ingin mengangkat hubungan rumit antara pengarang dengan tokoh ciptaannya dalam ‘Trilogi Soekram’. “Kemudian saya mempertanyakan tentang hubungan penulis dan apa yang ditulis, “ ungkapnya.

Sang penulis yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan akan tiada, sementara karya yang ditulisnya akan abadi. “Ciptaan manusia malah tidak mati, tetapi ciptaan Tuhan mati. Itu yang saya pikirkan (saat menulis Soekram),” pungkasnya.

Adapun, General Manager Gramedia Pustaka Utama, Siti Gretiani, menuturkan, “Kami ingin membuat bacaan sastra yang memiliki pembaca yang lebih luas. Terbitnya Trilogi Soekram jadi bentuk komitmen kami.”

Penyair ‘Hujan Bulan Juni’ itu awalnya menulis buku ‘Pengarang Telah Mati’ pada 2001. Lalu, melanjutkannya dengan ‘Pengarang Belum Mati’ dan ‘Pengarang Tak Pernah Mati’ di tahun 2011. Kini, di Bulan Maret 2015, penerbit Gramedia Pustaka Utama menggabungkan ketiganya dan menjadi ‘Trilogi Soekram’ dalam satu buku. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts