Robot Manusiawi untuk Manusia

Robot Manusiawi untuk Manusia

Chappie adalah pencapaian baru. Robot yang bisa merasa dan berpikir tapi dengan tingkat intelektual selayaknya bayi yang harus diajari segala hal.

Sinema dunia sudah mewariskan robot-robot di film yang terus dikenang hingga kini. Dimulai dari robot Maria di film bisu Metropolis (1927) karya Fritz Lang. Kemudian ke robot Gort dari The Day the Earth Stood Still (1951); ke R2D2 dan C3PO dari Star Wars (1977); ke robot Terminator (1984); hingga polisi setengah robot-setengah manusia bernama Robocop (1987). Kini hadir Chappie, robot jagoan yang seperti bayi.

Kala kriminalitas melonjak, manusia menemukan solusinya adalah robot. Robot yang disebut Scout ini anti tembak, dan hampir tak bisa mati. Kejahatan pun menurun drastis.

Otak dibalik semua itu adalah Deon Wilson (Dev Patel). Ia membuat robot berpenampilan ramping yang bisa berstrategi perang, sekaligus melindungi polisi manusia. Polisi puas, dan memesan ratusan robot polisi itu lagi.

Deon belum ingin berhenti bereksperimen. Ia ingin menciptakan robot yang bisa berpikir dan merasa, persis seperti manusia. Eksperimennya berhasil. Sayang, Deon tidak mendapat izin dari sang bos, Michelle Bradley (Sigourney Weaver).

Apalagi rekan kerjanya, Vincent Moore (Hugh Jackman) yang iri atas kesuksesan Deon mengembangkan robot bernama Moose, yang secara penuh dikendalikan oleh manusia secara virtual.

Karena mendapat tentangan untuk proyek barunya tersebut, diam-diam Deon melanjutkan pekerjaannya dengan mencuri komponen robot rusak, untuk kemudian dijadikan prototipe dari sistem intelegensi buatannya yang telah selesai ia kerjakan.

Saat membawa pulang komponen robot tersebut, namun ditengah jalan ia di hadang oleh kelompok gangster yang dipimpin oleh Ninja. Para Gangster ini memaksa Deon untuk menghentikan robot polisi dianggap selalu merepotkan mereka.

Namun Deon malah menawarkan pilihan lain, yaitu proyek robot intelegensi buatannya untuk diteruskan. Apabila berhasil, robot ini bisa diajarkan segala hal sesuai keinginan para ganster tadi. Akhirnya para gangster menyetujui hal tersebut. Lahirlah robot dengan intelegensi buatan yang kemudian diberi nama Chappie.

Hanya saja robot ini seperti bayi, ia harus belajar satu demi satu hal. Ia bahkan belajar memanggil Mommy, Daddy, dan namanya sendiri: Chappie. Sementara Deon, disebutnya sebagai Maker (Sang Pencipta). Kini, Chappie di antara dua pilihan. Belajar mengembangkan kreativitas dengan melukis seperti tuntunan Deon, atau ikut gerombolan penjahat untuk merampok dan membunuh.

Sementara itu, Vincent Moore membuat seluruh Scout di kota mati mendadak karena menghapus data mereka. Kesalahan ditimpakan pada Deon. Bagaimana ia memperbaiki segala kekacauan itu?
Neil Blomkamp bakal jadi anak emas Hollywood sejak debut film panjangnya, District 9 (2009) sukses besar. Bakat Neill terendus lewat film pendeknya Alive in Joburg (2006) yang menjadi Districk 9. Kini Chappie punya peluang yang sama.

Film ini juga awalnya adalah film pendek Neill berdurasi dua menit yang ia buat tahun 2004 berjudul Tetra Vaal. Film pendeknya berkisah tentang polisi robot yang ditembaki gangster Afrika Selatan. Si robot dibawa ke pabrik, diperbaiki, lalu ia membalas para gangster.
Di film ini kehidupan nyata yang keras berpadu dengan unsur fantasi. Jadilah pencampuran aneh tentang kehidupan mafia gangster yang berkolaborasi dengan sebuah robot penuh norma.
Gerak-gerik robot Chappie tampak menggemaskan. Ia menirukan ucapan, gaya berjalan, berbicara sopan, sampai minta dibacakan cerita malam.

Pemilihan aktor untuk karakter dalam film bisa dibilang sangat menarik. Ada vokalis band Die Antwoord dan Yo-landi, kemudian Dev Patel sebagai protagonis, dan yang mengejutkan Hugh Jackman sebagai antagonis. Peran para gangster juga ditampilkan lebih dinamis, dengan sisi kejahatan, pertemanan, kebodohan dan kelucuan. Chappie justru lebih hidup dengan kehadiran tiga anggota gerombolan penjahat, yakni Ninja, Yo-Landi, dan Amerika (Jose Pablo Cantillo). Mereka digambarkan keji namun tetap punya hati.

Semua itu menyatu dengan produk animasi robot Chappie. Gerakan motion picture dan suara imut Sharlto Copley sebagai Chappie, membuat penonton terenyuh. Insting keibuan Yo-Landi, salah satu anggota penjahat, juga membuat penonton perempuan terasa ingin ikut menimang bayi.

Secara sinematis, film punya kemiripan dengan beberapa karya Blomkamp sebelumnya yakni Distric 9 dan Elysium. Meski ini adalah film bergenre sci-fi, tapi sisi dramanya cukup menggugah emosi. Sense of humor dan kisah haru robot Chappie cukup berhasil mengocok perut juga menguras air mata. Mungkin karena konflik yang dihadirkan sederhana yaitu perseteruan dari dua pengembang teknologi serta perang antar geng.

Memang detail transisi dari animasi tidak begitu baik, meski cukup memuaskan. Logika alur cerita juga kurang mulus. Semisal bagaimana sistem keamanan pada sebuah pabrik teknologi pertahanan yang begitu mudahnya ditembus, disabotase. Tetapi di sisi lain film ini cukup banyak menghadirkan pesan-pesan moral yang bisa dipetik. Hanya saja cukup banyak adegan kekerasan yang sadis, heroin, darah, kata-kata kotor, kelicikan, dan beragam senjata tajam, sehingga bukan untuk tontonan keluarga.

About The Author

Stevy Widia memulai kariernya sebagai wartawan di Suara Pembaruan (1999-2010). Sejumlah penghargaan di bidang penulisan diperoleh untuk penulisan sejumlah artikel musik, film dan gadget, termasuk menjadi nominasi sebagai kritik film untuk Festival Film Indonesia 2005. Peraih penghargaan Anugerah Pesona Wisata Indonesia 2009 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata juga sempat dipercaya menjadi juri untuk MTV Music Award periode 2005-2006, dan Festival Film Jakarta 2006.

Related posts