Diskusi Film Kita, Problem Kita; Film Harus Jelas Misinya

Diskusi Film Kita, Problem Kita; Film Harus Jelas Misinya

Dalam rangka Hari Film Nasional, Fakultas Film dan Televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta (IKJ) bersama IKAFI (Ikatan Alumni Fakultas Film dan Televisi IKJ) menggelar diskusi film bertema ‘Film Kita, Problem Kita’ dengan menghadirkan Dr. Anies Baswedan Ph.D (Menteri Kebudayaan & Pendidikan Dasar dan Menengah RI), Edwin Nazir (Badan Perfilman Indonesia), Dian Sunardi (BlitzMegaplex), Ody Mulya Hidayat (Persatuan Produser Film Indonesia), Deddy Mizwar (aktor, sutradara, produser) dan Slamet Rahardjo (aktor senior) dengan Arturo GP sebagai moderator.

dedikasi
Acara diawali dengan sambutan Armantono sebagai Dekan FFTV-IKJ yang menyampaikan perihal diskusi film ini sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Beyond the Screen. Selain diskusi, ada juga acara career days, film screening, workshop fotografi, musyawarah IKAFI dan A Night of Celebration. Ada juga acara penyerahan secara simbolis karya sineas alumni FFTV-IKJ yang diterima oleh Indrayanto Kurniawan selaku Ketua Umum IKAFI.

Dalam acara diskusi, pembicara pertama adalah Dian Sunardi dari BlitzMegaplex yang membahas antara lain tentang Blitz Arthouse – Rumah Film Indonesia. Sebuah program yang menyediakan satu studio khusus di Auditorium 6 Blitzmegaplex, Mal Pacific Place, Jakarta, yang diperuntukkan film-film Indonesia, baik film baru (now showing) maupun film-film special (special screenings) seperti film-film yang menang di berbagai film festival, film dokumenter dan film pendek. Program ini juga memberi ruang bagi film-film karya sineas muda yang karyanya belum sempat tayang di bioskop. “Ini merupakan salah satu program corporate social responsibility (CSR) Blitzmegaplex. Blitz Arthouse didedikasikan untuk film Indonesia,” ungkapnya.

peran
Kemudian, Ody Mulya Hidayat dari Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI) yang membahas antara lain tentang produksi film dan perkembangan jumlah penonton bioskop di Indonesia. Sebagai produser film yang berpengalaman, Ody cukup jeli memaparkan naik-turunnya jumlah penonton bioskop di Indonesia. Ody juga memaparkan tentang Perfiki (Persatuan Film Keliling Indonesia), dan lain-lain.

Selanjutnya, Edwin Nazir dari Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang membahas antara lain tentang BPI sesuai UU No. 33 Tahun 2009 tentang Perfilman, bertugas di antaranya; untuk menyelenggarakan festival film di dalam negeri; mengikuti festival di luar negeri; menyelenggarakan pekan film di luar negeri; mempromosikan Indonesia sebagai lokasi pembuatan film asing; memberikan masukan untuk kemajuan perfilman; melakukan penelitian dan pengembangan perfilman; memberikan penghargaan; memfasilitasi pendanaan pembuatan film tertentu yang bermutu tinggi. Adapun visi BPI; terwujudnya perfilman Indonesia yang kompetitif, berkeadilan dan bermanfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, Deddy Mizwar yang membahas antara lain tentang berbagai permasalahan dalam dunia perfilman, yang antara lain menyinggung tentang BP2N (Badan Pertimbangan Perfilman Nasional) hingga sekarang menjadi BPI. Deddy juga mengungkapkan tentang perjuangannya demi kemajuan film Indonesia hingga sampai meyinggung tentang dominasi peredaran film Hollywood, dan lain-lain.

misi
Adapun Slamet Rahardjo berbicara dengan gaya sindiran khas ‘Sentilan-Sentilun’, sebuah talk show di MetroTV yang dilakoninya. Kalau film diibaratkan sebuah mobil maka sopirnya adalah Dr. Anies Baswedan Ph.D yang kini menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dan Pendidikan. “Film mau dibawa kemana tergantung kebijakan Pak Menteri, “ ucapnya mantap.

Lebih lanjut, Slamet menerangkan bahwa mobil punya dua kaca, yakni kaca depan dan kaca spion. “Keduanya sama-sama penting, tapi yang pasti sang sopir harus punya misi yang jelas, film mau kebawa kemana?”

Anies Baswedan diberi kesempatan terakhir yang berbicara. Anies yang dulu mengagumi film ‘November 1828’ yang dibintangi Slamet Rahadjo ini tampak cukup bijak menanggapi sindiran sang aktor. Anies membenarkan bahwa pemerintah memang harus punya misi yang jelas berkaitan dengan dunia perfilman. Anies juga membeberkan berbagai program ke depan yang akan digulirkan Kemendikbud yang berkaitan dengan dunia perfilman.

Sebuah diskusi yang waktunya sangat singkat tentu tak bisa tuntas untuk membahas berbagai permasalahan dalam dunia perfilman. Untuk itu, FFTV-IKJ membuka kesempatan untuk berdialog intens dengan Anies Baswedan mengenai berbagai permasalahan dalam dunia perfilman untuk kemudian bersama mencari pemecahan permasalahannya. Semoga, dengan demikian dunia perfilman ke depan menjadi lebih baik lagi. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts