Boyhood, Perjalanan Menakjubkan Film 12 Tahun

Boyhood, Perjalanan Menakjubkan Film 12 Tahun

Film ini dibuat secara berkala dalam rentang waktu 12 tahun, sebuah perjalanan hidup yang, menakjubkan.

“Boyhood” merupakan kisah melalui sudut pandang anak laki-laki bernama Mason (Ellar Coltrane), yang benar-benar tumbuh di dalam film ini. Film ini juga akan mengisahkan berbagai masa kanak-kanak Mason hingga dia remaja dan dewasa. Seluruh kegiatannya dari makan malam bersama keluarganya hingga hari dia di wisuda. Film ini menciptakan sebuah kapsul waktu untuk Mason dan keluarganya.

Dimulai pada tahun 2002, anak laki-laki berusia enam tahun bernama Mason Evans, Jr. (Ellar Coltrane) tinggal di Texas bersama saudara perempuannya Samantha (Lorelei Linklater) serta sang ibu, Olivia (Patricia Arquette), seorang ibu tunggal. Anak-anak ini hanya punya kesempatan bersama sang ayah, Mason Sr. (Ethan Hawke), setiap akhir pecan.

Perjalanan hidup Mason hingga wisuda satu dekade kemudian Mason dan perjuangannya menghadapi berbagai masalah selama pertumbuhannya, dari pubertas, seks, hingga patah hati disajikan apa adanya.
Tak ada rekayasa teknologi seperti mayoritas film pada umumnya. Hal ini yang membuat Boyhood terasa spesial. Konsep timelapse itu dipakai Richard Linklater untuk bercerita.

Perjalanan para aktor dalam film ini selama 12 tahun merupakan sebuah pertualangan nyata. Seperti sebuah semi-documenter yang menangkap pertumbuhan nyata seorang anak dari masa kanak-kanak hingga beranjak dewasa. Penonton dibawa masuk menyaksikan hitam dan putih kehidupan melalui mata Mason. Selama hampir tiga jam kita menjadi mata lain yang melihat, mengintip, dan terlibat dalam kehidupan Mason.

Boyhood minim kejutan, tanpa melodrama, tapi tetap mampu mencuri perhatian penonton. Penonton dibawa untuk menyaksikan apa saja sebenarnya yang menemani evolusi manusia, bertemu dengan masalah dan juga kegembiraan, dari acara berkemah hingga keterlibatan Harry Potter didalamnya. Ada transisi yang halus dan mulus pada cerita, dan itu impresif mengingat karakter dan cerita sendiri adalah fiktif namun potongan-potongan itu tetap dapat menyatu dengan mulus dan tampak nyata.

Kerja keras dan kesabaran adalah kunci keberlangsungan film ini. Sang sutradara, Richard Linklater menjadi tiang utama film ini. Ketika para sineas berlomba-lomba bermain dengan teknologi untuk mengerjakan film mereka, dan meraih keuntungan. Lintaker sebaliknya. Dia memakai cara yang berbeda untuk menjadikan penonton mencintai karya-karyanya. Sebelumnya ia membuat Before Series yang dikerjakan selama sembilan tahun. Kerja keras ini pantan berbuahkan penghargaan termasuk BAFTA 2015 sebagai Film Terbaik.

About The Author

Stevy Widia memulai kariernya sebagai wartawan di Suara Pembaruan (1999-2010). Sejumlah penghargaan di bidang penulisan diperoleh untuk penulisan sejumlah artikel musik, film dan gadget, termasuk menjadi nominasi sebagai kritik film untuk Festival Film Indonesia 2005. Peraih penghargaan Anugerah Pesona Wisata Indonesia 2009 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata juga sempat dipercaya menjadi juri untuk MTV Music Award periode 2005-2006, dan Festival Film Jakarta 2006.

Related posts