Totalitas Nadine Chandrawinata Berperan Wartawan di Film Erau Kota Raja

Totalitas Nadine Chandrawinata Berperan Wartawan di Film Erau Kota Raja

Berperan sebagai wartawan di film ‘Erau Kota Raja’ menjadi tantangan tersendiri bagi aktris cantik Nadine Chandrawinata. Dalam film arahan sutradara Bambang Drias ini, Putri Indonesia 2005 yang mewakili Indonesia pada ajang Miss Universe 2006 di Amerika Serikat dan meraih juara kedua untuk Budaya Nasional Terbaik dan Putri Persahabatan ini tampak menunjukkan totalitasnya. Aktris yang juga model ini pun sama sekali tak merias wajah dan menata rambutnya. Hal ini dilakukan agar Kirana, karakter wartawan yang diperaninya, tampak lebih alami. Meski tanpa riasan, Nadine dalam film ini tetap cantik.

“Aku pengin film yang beda, tapi benang merahnya sama, yakni petualangan. Aku enggak mau pakai make up atau hairdo,” kata Nadine Chandrawinata dalam acara Gala Premiere film ‘Erau Kota Raja’ di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (5/1/2015).

Hasilnya, ketika shooting film tersebut di Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, perempuan kelahiran Hannover, 8 Mei 1984 sampai-sampai disangka sebagai seorang wartawan sungguhan yang sedang melakukan liputan.

“Saya lebih banyak di luar dibanding di dalam rumah. Saya benar-benar dikira sebagai wartawan. Saya bisa nanya apa aja sampai ke tengah lapangan. Saya juga mendokumentasikan acara berlangsung,” terang perempuan berdarah Indonesia-Jerman ini.

Selain tanpa rias wajah, Nadine sengaja berbaur dengan para wartawan lain demi bisa lebih baik berperan sebagai Kirana dalam film yang mengangkat festival tahunan Erau, yang diadakan di Tenggarong.

“Dari awal berangkat (dari Jakarta), saya buang Nadine. Kumpul sama wartawan di sana, ada yang tahu saya, ada yang enggak,” ungkap Nadine tergelak.

Lebih lanjut, Nadine mengakui betapa sulitnya menjadi seorang wartawan, terkadang terbentur dengan narasumber yang enggan memberikan keterangan.

“Kadang wartawan juga sulit untuk mencari narasumber. Tapi saya salut kepada rekan-rekan wartawan. Karena telah membantu di belakang layar melalui tulisan-tulisannya,” pujinya.

Menurut Nadine, ia banyak belajar dalam film tersebut. “Kita para pemain di sana (Tenggarong) banyak belajar dari film ini. Sebab film ini bercerita tentang budaya Erau yang sudah terlaksana sejak dahulu kala. Sekitar tiga minggu di sana, saya mempelajari budayanya. setelah diberi skrip saya banyak sekali mendapat pelajaran baru, saya beruntung terlibat di dalam film ini,” bebernya.

Bagi Nadine, ada banyak cara untuk memperkenalkan budaya di Indonesia. Salah satunya, lewat film yang memamerkan keindahan alam dan kebudayaan khas Erau ini.
“Banyak yang bisa diangkat. Kalung yang dipakai itu bagus banget. Kain ada. Tekstur topografinya bagus. Budayanya menarik, apalagi pesta budaya Erau sangat menarik, dan patut dijadikan referensi liburan tahunan,” pungkasnya.

Dalam film yang naskah skenarionya digarap Endik Koeswoyo ini mengisahkan tentang Kirana (Nadine Chandrawinata) ditugaskan untuk meliput Pesta Adat Erau di Tenggarong. Saat peliputan, Kirana berkenalan dengan seorang pemuda lokal bernama Reza (Denny Sumargo). Kirana mulai jatuh cinta kepada Reza. Namun, cinta mereka mendapat tentangan dari ibu Reza (Jajang C Noer). Sang ibu melakukan segala cara untuk mengusir Kirana dari desanya. Pak Camat (Ray Sahetapy) terpaksa harus mengusir Kirana yang dianggap telah meresahkan masyarakat. Kirana pulang ke Jakarta tanpa sempat memberi tahu Reza, sehingga Reza tentu saja marah kepada ibunya.

Di film produksi East Cinema ini, Nadine beradu akting antara lain dengan Denny Sumargo, Ray Sahetapy, Jajang C Noer, Donnie Sibarani (vokalis Ada Band), Herrichan dan Sally Dewantara. Film ini tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 8 Januari 2015. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts