Rayni dan Noorca M Massardi Kompak Berkarya dan Meluncurkan Novelnya

Rayni dan Noorca M Massardi Kompak Berkarya dan Meluncurkan Novelnya

Rayni N Massardi dan Noorca M Massardi, suami istri yang sama-sama menjadi penulis, bersama-sama meluncurkan novelnya. Rayni dengan novel pertamanya ‘Langit Terbuka’, sedangkan Noorca M Massardi dengan novel kelimanya ‘Straw’. Keduanya bukan hanya harmonis dalam berumah tangga, tapi juga kompak dalam berkarya.

Rayni mengatakan, peluncuran novelnya tidak direncanakan dan tanpa kesengajaan. Hal itu dikarenakan uniknya novel yang berkisah tentang hidup dan cinta perempuan..

“Tidak direncanakan dan tanpa kesengajaan, Alhamdulillah kedua buku kami bisa diluncurkan sama-sama pada hari ini. Kebetulan penerbitnya sama, ” kata Rayni N Massardi dalam acara peluncuran novel ‘Langit Terbuka’ dan ‘Straw’ di PDS HB Jassin, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin (26/1/2015).

Meski sama-sama menjadi penulis, Rayni dan Noorca mengaku punya proses kreatif yang berbeda saat menulis. Jika Noorca lebih suka menulis novelnya saat berada di Bali, Rayni justru memanfaatkan energi positif Bali sebagai “cadangan kebahagiaan” saat menulis novel di Jakarta. “Bali bukan cuma tempat yang indah, tapi hanya di Bali saya bisa bernapas. Karena itu, saya sering bolak-balik Bali,” ungkapnya.

“Di Bali, berbeda dengan suami saya, Noorca, bukan untuk menulis. Rasanya terlalu sayang membuang waktu untuk itu. Sebab, terus terang, mondar-mandir Bali memerlukan biaya lumayan besar. Artinya, setiap berada di Bali, saya selalu membiarkan tubuh dan pikiran ini terempas bersama-sama untuk diam, berpikir, mendengarkan musik, bengong di pantai, berjemur sampai gosong, jalan kaki sepanjang pantai atau trotoar, mendengarkan suara sekitar tabuhan musik Bali di kejauhan maupun dekat, mencium aroma dupa, dan bertegur sapa dengan entah siapa tanpa rasa curiga dan khawatir. Itulah sebabnya Bali membuat saya waras dan bukan sekadar berlibur atau holiday. Jadi, ketika saya kembali ke Jakarta, ke Bintaro, barulah saya mulai menulis apa saja, di tengah hiruk-pikuk manusia aneka ragam dan sikap,’ terangnya.

Novel ‘Langit Terbuka’ bercerita tentang seseorang perempuan bernama Sila yang mengalami banyak masalah. Segala persoalan mulai dari cinta, hati, dan pikiran menggelisahkannya. Ia ingin bangkit kembali dari titik nol pada sisa waktu dan umurnya. Dalam kesendirian di tempat baru, Sila mengharapkan keajaiban dalam perjalanan hidupnya untuk dapat bertemu dengan seseorang yang berbeda. Sila berharap dapat bertemu dengan hati yang baik dan tulus mencintainya. Namun kisah perjalanan Sila tak mudah. Ia mencari arti dari sebuah hati, perasaan, hak asasi, dan penghormatan.

Novel yang mengusung tema cinta ini ditulis Rayni dengan gaya penulisan berbeda dengan novel percintaan lainnya. Bahasa Rayni renyah, mengalir, dan humble. Di balik jalinan cerita cintanya, ia melakukan perenungan mendalam pada kehidupan dengan perspektif luas dan bebas. Novel ini membuka wawasan pembaca tentang apa arti hidup dan bertoleransi dengan banyak hal.

“Gaya bertutur Rayni mengantar tokoh Sila, anak bungsu keluarga modern, pada konflik batin yang mengarah obsesif kompulsif. Gejala psikologis inilah yang membuat Langit Terbuka memberi kejutan-kejutan tak terduga dan memikat,” kata Prasetyohadi, cerpenis sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Kicau Bintaro yang menjadi pembicara khusus membahas ‘Langit Terbuka’ dalam acara diskusi.

Sedangakan, novel ‘Straw’ menceritakan tentang seorang profesor yang suatu hari ditemukan tewas di kamar hotel, di Pantai Sanur, Bali. Kematiaanya ternyata hanya satu dari puluhan kasus serupa yang menimpa para tokoh ternama di Indonesia. Terlebih kematian ini merupakan kematian berantai selama belasan tahun yang terjadi di sejumlah hotel dan tempat terbuka.

Lokasi peristiwa yang selalu di sejumlah hotel dan tempat terbuka, itu selalu dianggap “wajar” karena kematian demi kematian itu selalu dinyatakan sebagai akibat serangan jantung atau stroke. Termasuk oleh tim dokter dan pakar forensik. Namun, Banyan, seorang pewarta muda, menemukan dan mencurigai adanya keterkaitan pada setiap kasus tersebut.

Novel yang mengusungkan tema psycho-thriller ini ditulis Noorca selama 7 tahun. Penulisan fiksi yang terbilang jarang ditempuh oleh penulis-penulis tersohor Indonesia. Ia berharap karyanya ini dapat memberikan memberikan warna baru dalam genre penulisan novel di Indonesia.

“Menurut sepengetahuan saya ini merupakan novel psycho-thriller pertama di Indonesia. Mungkin nantinya ini bisa menjadi inspirasi bagi penulis yang ingin menulis tentang genre yang sama,” kata Philips Vermonte peneliti senior di CSIS yang menjadi pembicara khusus membahas ‘Straw’ dalam acara diskusi.

Kedua novel suami-istri ini diterbitkan oleh Penerbit Kaki Langit Kencana, Jakarta.dan kini sudah tersedia di toko-toko buku. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts