Mockingjay Part 1, Pertarungan Belum Berakhir

Mockingjay Part 1, Pertarungan Belum Berakhir

Mockingjay Part 1 film tebaru dari adaptasi terakhir dari novel trilogy karangan Suzanne Collins agak kesulitan karena dibagi atas dua bagian. Terasa agak dipaksakan meski tetap menarik untuk disaksikan.

Itu adalah keputusan yang dibuat di Hollywood oleh studio mencari untuk keuntungan berlipat dari franchise blockbuster. Mungkin mencoba resep yang sukses diraih Harry Potter dan Twilight.
Hanya saja itu rencana bisnis yang cukup sinis, dan itu menyebabkan sebuah film yang terasa sia-sia empuk. Mockingjay-Bagian 1 adalah seperti makalah dengan margin diperbesar dan ukuran font mendongkrak untuk mencapai jumlah yang ditetapkan halaman.

Hal ini terutama mengecewakan karena sebelumnya, Cathing Fire (2003), hadir dengan kejutan yang menyenangkan mengingat cerita aslinya agak datar. Cathing Fire, di sisi lain, memberikan pahlawan baru, Katniss Everdeen, yang tampil memicu adrenalin. Dimainkan oleh Jennifer Lawrence, Katniss berkembang menjadi karakter yang baik cerdas sekaligus mematikan.

Namun sekarang, di Mockingjay-Part 1, dia menjadi pasif. Film ini beranjak dari bagian akhir Cathcing Fire’s Quarter Quell, ketika Katniss berhasil diselamatkan dan dibawa ke benteng bawah tanah pemberontak di Distrik 13. Dari sini, para pemimpin anti-Capitol merencanakan serangan berikutnya mereka melawan Presiden Snow (Donald Sutherland). Rupanya mengubah Katniss menjadi simbol api perlawanan dan memacu warga berdaya dari Panem untuk bangkit melawan Capitol. Ini adalah perang propaganda, dan dia adalah senjata rahasianya.

Katnis didukung Presiden Coin (Julianne Moore), Plutarch (mendiang Philip Seymour Hoffman), Beetee (Jeffrey Wright), Haymitch (Woody Harrelson), dan Effie Trinket (Elizabeth Banks). Mereka mengirim Katniss dan Gale (Liam Hemsworth) ke garis depan. Tetapi Snow memiliki senjata rahasia sendiri. Peeta (Josh Hutcherson) muncul kembali di Capitol, dan dalam serangkaian wawancara dengan wartawan sensasional Caesar (Stanley Tucci), ia mencela Katniss dan mendesak gencatan senjata. Pengkhianatan ini menghancurkan Katnis dan memaksanya untuk menyadari bahwa perasaannya untuk Peeta.

Dengan subplot dan kisah kaum proletar, Mockingjay mungkin menjadi film keluaran Hollywood dengan ide Marxis. Sutradara Francis Lawrence dan penulis scenario Peter Craig dan Danny Strong menyelipkan banyak pandangan politik dalam film ini. Hanya saja secara keseluruhan mereka terikat oleh cerita yang sudah terbentuk dari awal, yakni kompetisi bunuh atau dibunuh. Dengan akhir ceritanya sudah tersedia, untuk apa lagi berpanjang-panjang hingga bagian kedua ?

About The Author

Stevy Widia memulai kariernya sebagai wartawan di Suara Pembaruan (1999-2010). Sejumlah penghargaan di bidang penulisan diperoleh untuk penulisan sejumlah artikel musik, film dan gadget, termasuk menjadi nominasi sebagai kritik film untuk Festival Film Indonesia 2005. Peraih penghargaan Anugerah Pesona Wisata Indonesia 2009 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata juga sempat dipercaya menjadi juri untuk MTV Music Award periode 2005-2006, dan Festival Film Jakarta 2006.

Related posts