Dracula Pertama Ternyata Penyayang

Dracula Pertama Ternyata Penyayang

Kisah mengenai asal muasal sang Dracula sudah berulang-kali diceritakan. Mulai dari literatur, videogame, serial TV, hingga film layar lebar. Alur cerita yang ditawarkan pun kurang lebih sama. Yang terbaru adalah Dracula Untold.

Kisah Dracula kali ini berlatar di abad ke-15. Kala itu hiduplah Vlad Tepes (Luke Evans) , Pangeran Wallachia, yang juga dikenal sebagai The Impaler . Ia tinggal bersama istri tercintanya, Mirena (Sarah Gadon), dan seorang putra Ingeras (Art Parkinson). Kehidupan mereka yang damai dan bahagia, hancur ketika Sultan Turki yang menguasai Wallachia.

Penakluk ini lalu mengambil 1,000 remaja –termasuk Ingeras – untuk dijadikan prajurit beringas bagi Sultan Mehmet (Dominic Cooper). Vlad tentu saja menolak mentah-mentah. Tahu perlawanannya sia-sia karena kalah jumlah pasukan dan kekuatan, Vlad pun menuju sebuah Goa keramat di puncak gunung yang terkenal angker untuk bertemu dengan sang Iblis sejati (Charles Dance) dan meminta kekuatan darinya. Si Iblis pun memberikan Vlad kekuatan luar biasa yang akan tahan selama tiga hari. Namun selama tiga hari tersebut, Vlad akan merasakan haus darah yang tak tertahankan.

Jika Vlad berhasil menahan haus selama tiga hari, dia akan mampu memenangkan perang melawan pasukan Turki dan kembali menjadi manusia. Jika tidak, dan dia menyerah pada dorongan untuk mereguk darah manusia, maka Vlad akan berubah menjadi mahluk terkutuk seperti sang iblis selama-lamanya.

Kesan drakula sebagai makhluk pengisap darah yang kejam dan sadis tak terdapat dalam film ini. Naskah Dracula Untold yang digarap Matt Sazama dan Burk Sharpless ini lebih mengedepankan sisi manusia dari seorang pria yang harus mengambil keputusan ekstrim demi menyelamatkan orang-orang terkasih. Jangan berharap akan mendapatkan visual gigitan berdarah-darah atau adegan manusia memangsa manusia dengan sadis.

Di sisi lain saat menonton film ini kamu merasa agak sedikit gelap dari film-film modern biasanya, itu kemungkinan besar karena film arahan sutradara Gary Shore ini dibuat dalam format 35mm (non-digital). Penggunaan efek khusus yang banyak diterapkan dalam film ini juga menjadi salah satu alasan kenapa latar di sepanjang film tampak gelap. Meski demikian, sinematografi yang ditawarkan cukup ciamik, mulai dari desain latar alam, hingga istana; semuanya tampak indah di pandangan mata selama durasi 92 menit.

About The Author

Stevy Widia memulai kariernya sebagai wartawan di Suara Pembaruan (1999-2010). Sejumlah penghargaan di bidang penulisan diperoleh untuk penulisan sejumlah artikel musik, film dan gadget, termasuk menjadi nominasi sebagai kritik film untuk Festival Film Indonesia 2005. Peraih penghargaan Anugerah Pesona Wisata Indonesia 2009 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata juga sempat dipercaya menjadi juri untuk MTV Music Award periode 2005-2006, dan Festival Film Jakarta 2006.

Related posts