Mantan Polisi vs Gembong Narkotika

Mantan Polisi vs Gembong Narkotika

Di adaptasi novel misteri A Walk Among the Tombstones-nya Lawrence Block, Neeson kembali memerankan mantan polisi, hanya saja kamu tidak bisa membandingkan dengan film thriller kriminal lainnya.

Film garapan Scott Frank (penulis naskah Out of Sight, Minority Report) ini punya modal dari novel laris yang bagus untuk menjadikannya thirller kriminal berkelas.

Adalah seorang mantan polisi Matt Scudder (Liam Neeson) memilih jalur unofficial private investigator, seorang detektif swasta yang tidak resmi. Jadi tidak resmi karena ia diminta oleh Kenny Kristo (Dan Stevens) seorang gembong narkotika untuk menyelidiki penculikan istrinya, Carrie Kristo (Razane Jammal).

Matt diminta untuk mengungkap siapa dalang dibalik penculikan itu, dan ketika sang istri tersebut dibunuh secara keji, ia diminta untuk mencari tahu apa motif dan keinginan dibalik peristiwa ini. Kejadian tersebut membawa Matt ke dalam penyelidikan yang melelahkan, menguras tenaga dan menyabung nyawa. Karena dalam penyelidikannya, ia mesti berhadapan dengan para pengedar narkoba lain yang tak segan-segan menghabisi nyawa orang lain.

Liam Neeson merupakan aktor berkarakter yang pas dalam memerankan polisi, agen CIA. Setelah film Taken dan Taken 2, hingga Non-Stop. Atau aksinya sebagai Master Qui-Gon Jinn di Star Wars. Bahkan sebagai pengisi suara Aslan dalam sekuel Narnia, atau Zeus dalam Clash/Wrath of The Titans, terdengar begitu legendaris.

Tak heran jika A Walk Among the Tombstone bergantung sepenuhnya pada aksi Liam. Kita sudah sering melihat bagaimana seorang Liam Neeson beraksi di film-film action thriller, menjadi menjadi ayah idaman sekaligus polisi, agen rahasia atau eks dari kedua profesi itu, dengan satu set kemampuan mematikan yang diperoleh karakternya dari waktu yang lama. Sayangnya di film ini aksi itu teredam.

Film ini bergerak pelan, merangkak menyusuri New York dari jalan-jalan Hell’s Kitcher yang sepi sampai makam-makam kelam dan basah karena hujan di era pra-millenium. Narasinya tidak hanya berkutat pada kasus misteri pembunuhan namun juga membawa penontonnya menjadi saksi dari pergolakan batin Matthew Scudder, seorang detektif old-school yang kompleks dalam usahanya mengatasi kecanduan alkohol dan sebuah masa lalu kelam 8 tahun silam yang terus membayanginya. Kadar suspense yang dibangun di sini tidak terlalu menggigit meskipun ya, harus diakui, ada satu-dua momen mendebarkan, tetapi itu tidak benar-benar cukup untuk membangunkan beberapa penontonnya.

Tetapi terlepas dari kekurangannya, harus diakui Liam Neeson tetap memberikan sinar kuat untuk menuntun naskahnya yang suram. Karakternya mungkin terasa sebelas dua belas dari apa yang pernah diperankan Neeson di film-film sejenis, bedanya Frank memberinya lebih banyak dinamika, gejolak dan konflik dari dalam diri Matthew, bagaimana setiap keputusan yang diambil, bagaimana ia menguak misteri dan tentu saja hubungannya dengan T,J yang sedikit banyak mengingatkan sesuatu dari masa lalunya.

Mengambil lokasi di New York, film yang berdurasi 113 menit ini memakan biaya USD 28 juta dengan pendapatan terakhir USD 13 juta di Amerika. Untuk saat ini, A Walk Among the Tombstone masih membayangi The Maze Runner yang berada di puncak Box Office dengan perolehan USD 33 juta.

About The Author

Stevy Widia memulai kariernya sebagai wartawan di Suara Pembaruan (1999-2010). Sejumlah penghargaan di bidang penulisan diperoleh untuk penulisan sejumlah artikel musik, film dan gadget, termasuk menjadi nominasi sebagai kritik film untuk Festival Film Indonesia 2005. Peraih penghargaan Anugerah Pesona Wisata Indonesia 2009 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata juga sempat dipercaya menjadi juri untuk MTV Music Award periode 2005-2006, dan Festival Film Jakarta 2006.

Related posts