Kekelaman di Dunia Yang Sempurna

Kekelaman di Dunia Yang Sempurna

Diangkat berdasarkan novel karya Lois Lowry, film The Giver mengisahkan tentang dunia yang sempurna. Di masa depan, dunia akan menjadi tempat yang sempurna bagi mahluk penghuninya. Semua orang senang dengan keadaan di bumi saat itu. Semua terasa sangat dama dan indah tetapi tak ada pilihan.

Namun keadaan ini tidak berlaku bagi Jonas [Brenton Thwaites] pemuda berusia 18 tahun. Sejak Ia terpilih menjadi “Receiver of Memories”. Hal itu membuat Jonas yang awalnya hanya remaja biasa kini mulai mengalami perubahan drastis dalam hidupnya.

Ia kini mulai belajar menghadapi rasa sakit, kesedihan dan kegelapan yang sebenarnya ada. Ada rahasia yang ternyata disembunyikan selama ini, kesempurnaan yang ada ternyata palsu. Kenyataan ini membuat Jonas dihadapkan dengan situasi sulit antara kehidupan sendiri dan masa depannya.

Film drama produksi Walden Media ini ditangani oleh sutradara Philip Noyce. Selain Brenton Thwaites sederet nama-nama aktris dan aktor ternama juga ikut berperan, seperti Jeff Bridges, Meryl Streep, Katie Holmes, Alexander Skarsgard, Odeya Rush dan Taylor Swift. Tak dipungkiri kehadiran sejumlah bintang muda menjadi pemikat film ini.

Di sisi lain, buku karangan Lois Lowry ini merupakan bacaa “wajib” para remaja di AS, Kanada sampai Australia. Bisa disejajarkan dengan The Hunger Games dan Divergent. Tema yang dihadirkan juga tidak terlalu jauh berbeda. Sayangnya, Noyce dan duo penulis skenario Michael Mitnick dan Robert B Weide kurang dapat mengeksplorasi itu. Film yang seharusnya memiliki pesan kuat, hanya menjadi petualangan ringan semata.

Alur berjalan lamban, dan terkesan bertele-tele. Adegan menarik banyak hilang bersama dialog-dialog yang melelahkan. Karakterisasi yang lemah kurang mampu menunjang dramatisasi adegan, bahkan adegan romantis lewat begitu saja. Formula yang terkesan asal jadi dan terburu-buru membuat film ini terasa monoton. Pupus harapan untuk mendapatkan petualangan yang liar dan menyenangkan dalam The Giver. Mungkin lebih baik jika sebelum menonton Anda membaca bukunya.

About The Author

Stevy Widia memulai kariernya sebagai wartawan di Suara Pembaruan (1999-2010). Sejumlah penghargaan di bidang penulisan diperoleh untuk penulisan sejumlah artikel musik, film dan gadget, termasuk menjadi nominasi sebagai kritik film untuk Festival Film Indonesia 2005. Peraih penghargaan Anugerah Pesona Wisata Indonesia 2009 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata juga sempat dipercaya menjadi juri untuk MTV Music Award periode 2005-2006, dan Festival Film Jakarta 2006.

Related posts