Forum Lenteng Kembali Gelar Arkipel

Forum Lenteng Kembali Gelar Arkipel

Forum Lenteng kembali menggelar Arkipel International Documentary & Experimental Film Festival di berbagai tempat, yaitu Graha Bakti Budaya TIM (Taman Ismail Marzuki), Kineforum DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), Studio XXI TIM, Goethehaus Jakarta dan Gedung PFN (Produksi Film Negara) pada 11-21 September 2014. Mengusung tema ‘Electoral Risk’, Arkipel yang digelar untuk kedua kalinya ini mencoba melihat bagaimana sinema membaca demokrasi, aktivisme, politik, dan kekuatan sipil dewasa ini, baik di Indonesia, Asia, dan masyarakat global.

“Festival ini digelar untuk memperkenalkan apa itu film, apa itu sinema, karena yang kita tahu film itu hanya yang ada di bioskop. Film yang akan kami putar berbeda. Kita mau melihat isu-isu yang ada di publik, persoalan politik. Kami mencoba melihat bagaimana sinema berhubungan dengan politik,” kata Hafiz Rancajale, Direktur Artistik Arkipel.

Arkipel 2014 memilih 29 film yang lolos seleksi untuk sesi Kompetisi Internasional dari 320 film. Film-film tersebut menunjukkan beberapa poin dasar mengenai pandangan dunia dalam beragam pendekatan visual, baik modern maupun kontemporer, yang diungkapkan melalui pertimbangan gaya, dan sebagian lagi menunjukkan keunikan-keunikan tersendiri karena berasal dari berbagai sudut kawasan benua. Film dokumenter dan eksperimental yang terpilih ditayangkan di Kineforum dan Studio XXI Taman Ismail Marzuki pada tanggal 11-18 September 2014. Juri Kompetisi Internasional antara lain; Otty Widasari (seniman, sutradara, aktivis media/Indonesia), Hafiz (seniman, sutradara, Indonesia), Ronny Agustinus (penulis, peneliti/Indonesia) dan Philip Cheah (kurator, penulis/Singapura).

Seperti pada pergelaran pertama di tahun 2013, tahun ini Arkipel kembali bekerjasama dengan beberapa festival film dan seni media bertaraf internasional, seperti di antaranya; Images Festival (Kanada), Yamagata International Documentary Film Festival (Jepang), Hamburg International Short Film Festival (Jerman), dan Bangkok Experimental Film Festival (Thailand).

Selama pelaksanaannya, Arkipel 2014 meliputi beberapa program, seperti International Competition dimana kita dapat menyaksikan 29 film dari sesi kompetisi internasional. Kemudian, di sini juga ada international special screening yang memutar film-film karya sutradara internasional, seperti Alexander Kluge dan Shinsuke Ogawa. Tahun ini, tiga kurator Indonesia Ronny Agustinus, dan Bunga Siagian juga turut hadir dalam Curatorial Program. Program menarik lainnya adalah simposium yang dimoderatori oleh Manshur Zikri dari Forum Lenteng.

Mengisi deretan program lainnya, kita juga bisa ikutan workshop produksi dan processing film bersama Lab Laba Laba dengan mentor sutradara muda Indonesia, Edwin. Melengkapi rentetan acara ini, Pameran Sejarah Film yang bertajuk Jajahan Gambar Bergerak: Lumiere bikin event ini semakin menarik untuk dikunjungi. Soalnya, dalam pameran yang digelar di gedung laboratorium processing film PFN ini, kita tidak hanya dapat menikmati film yang ditayangkan, kita juga jadi tahu bagaimana perkembangan sinema dunia.

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts