Perang Maritim Yang Laris Di Korsel

Perang Maritim Yang Laris Di Korsel

Perang maritim terkenal divisualisasikan dengan teknologi tercanggih. Itulahyang disajikan film Roaring Currents.

Film yang juga berjudul The Admiral : Roaring Currents produksi CJ Entertainment ini menjadi film terlaris yang pernah diputar di Korea Selatan. Saat pertama kali pada 30 Juli 2014 lalu, sejumlah 682.882 tiket terjual di hari pertama. Hingga kini telah 16,2 juta tiket terjual yang mencapai 13,62 tiket dengan nilai sekitar US$ 123,4 juta. Sepanjang sejarah perfilman Korea, tidak ada film lain baik lokal maupun impor yang pernah mencapai angkat tersebut.

Besarnya pencapaian film ini merupakan kolaborasi dari berbagai unsure. Mulai dari nilai produksi yang tinggi–baik dari setting, kostum, visual effect, ataupun karena dibintangi dua aktor terkenal, Choi Min-sik (Oldboy, Lucy) dan Ryu Seung-ryong (Miracle in Cell No. 7, The Target). Hingga nilai sejarah yang diangkat di film ini.

Roaring Currents berkisah tentang sosok heroik dan peristiwa sejarah paling terkenal di Korea.
Di abad ke-16, dinasti Joseon di Korea harus menghadapi serangan kekaisaran Jepang yang terbilang kuat. Namun, sebuah perlawanan sengit datang dari seorang pelaut bernama Laksamana Yi Sun-shin (di perankan Choi Min Sik), beberapa kali berhasil memimpin pasukan untuk memukul mundur angkatan laut kekaisaran Jepang. Reputasi ini membuat Yi disegani, baik dari bangsa sendiri maupun dari bangsa lawan.

Satu peristiwa yang paling terkenal dari sepak terjang Laksamana Yi adalah pertempuran melawan armada Jepang di Selat Myeongnyang di tahun 1597. Dari perhitungan kekuatannya, pertarungan ini sekilas tampak mustahil, karena armada yang dipimpin Laksamana Yi jumlahnya hanya 12 kapal perang saja sementara Jepang memiliki sekitar 330 kapal. Dengan keberanian dan strategi perang yang epik, Korea pun dengan berani bertempur melawan Jepang di tengah laut selama delapan jam penuh. Nilai patriotisme tersebut tentu dirasa penting untuk diulik lebih jauh.

“Bagaimana seseorang memimpin 12 kapal melawan 330 kapal musuh namun berhasil meraih kemenangan pada akhirnya? Semua dimulai dari pertanyaan tersebut,” ungkap sutradara Kim Han-min, yang sebelumnya terkenal menggarap film kolosal sejarah War of the Arrows.

Sutradara Kim Han Min membuat film ini terlihat sangat realistis dengan melakukan penelitian sejarah yang luas selama beberapa tahun. Kapal-kapal yang digunakan di adegan perang pun di bangun dengan bahan-bahan otentik dan beberapa adegan juga direkam di laut.

Kim memulai riset mendalam untuk mengisahkan pertempuran bersejarah ini dalam bentuk visual. Hasilnya, film Roaring Currents secara mendetail menggambarkan pertempuran sengit armada pimpinan Laksamana Yi (Choi Min-sik), yang memanfaatkan gelombang arus yang deras dan labil di selat Myeongnyang, dalam melawan ratusan armada pimpinan Kurushima (Ryu Seung-ryong), sang perompak keji yang diperintahkan Jepang untuk melawan Laksamana Yi.

Film ini mulai dari tahap dasar menggunakan bahasa sesuai negara asal tokoh-tokohnya–bahasa Jepang dan Korea, sampai memproduksi kostum sesuai negaranya–kostum pasukan Jepang dibuat di Jepang, dan kostum pasukan Korea dibuat di Korea. Kru film ini juga membangun beberapa kapal berdesain dan berukuran asli, lalu melakukan pengambilan gambar di lautan. Namun, untuk adegan pertempuran yang intens, tetap dilakukan di sebuah set khusus di darat yang kemudian ditambahkan visual effects.

Selain berkonsentrasi pada detail pertempuran yang mendebarkan, Kim yang menggarap skenarionya bersama Jeon Cheol-hong juga mengembangkan kisah pribadi para pelaku sejarah ini, menjelang pertempuran besar itu. Karena itulah, tak hanya dipaparkan tentang strategi berperang, film ini bakal menunjukkan intrik-intrik di tubuh kemiliteran, mata-mata, hubungan keluarga, hingga permasalahan emosional dari Laksamana Yi sendiri, yang sebelumnya sempat dituduh berkhianat.

Film ini juga dibintangi oleh Jin Gu sebagai Im Jun-yeong sang mata-mata, Lee Jung-hyun sebagai istri Im, Kwon Yul sebagai Yi Hwoe putra Laksaman Yi, Cho Jin-woong sebagai Jenderal Wakizaka, dan Kim Myung-gon sebagai Jenderal Toudou. Dalam durasi sekitar 127 menit, Roaring Currents hendak membawa penontonnya mengalami langsung peristiwa heroik yang membanggakan bagi bangsa Korea, yang disajikan dalam kemasan sinematik paling mutakhir. (SW)

About The Author

Stevy Widia memulai kariernya sebagai wartawan di Suara Pembaruan (1999-2010). Sejumlah penghargaan di bidang penulisan diperoleh untuk penulisan sejumlah artikel musik, film dan gadget, termasuk menjadi nominasi sebagai kritik film untuk Festival Film Indonesia 2005. Peraih penghargaan Anugerah Pesona Wisata Indonesia 2009 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata juga sempat dipercaya menjadi juri untuk MTV Music Award periode 2005-2006, dan Festival Film Jakarta 2006.

Related posts