Nominasi Film Dokumenter Terbaik Denpasar Film Festival 2014

Denpasar Film Festival (DFF) 2014 segera digelar. Dewan Juri DFF 2014 telah memilih lima film yang dinominasikan sebagai film terbaik dalam festival film dokumenter tahunan yang sudah berlangsung sejak 2011. Dimana setiap tahun terjadi peningkatan kualitas peserta sehingga film dokumenter bukan sekedar dokumentasi belaka karena penilaian benar-benar berdasarkan aspek sinematografi. Malam penganugerahan DFF 2014 akan digelar pada Sabtu, 23 Agustus 2014 mendatang.

“Nanti akan dipilih yang paling mendekati kesempurnaan berdasarkan kriteria sinematografi,” kata Ketua Dewan Juri Slamet Rahardjo Jarot kepada wartawan, di Denpasar, Sabtu (16/8).

Lebih lanjut, Slamet Rahardjo, menerangkan, setiap tahun terjadi peningkatan kualitas peserta sehingga film dokumenter bukan sekedar film dokumentasi belaka. “Tahun ini, kami sangat senang karena penilaian benar-benar berdasarkan aspek sinematografi,” terangnya.

Selain aktor kawakan itu, juri lainnya, yaitu fotografer Rio Helmi, budayawan I Made Bandem, jurnalis Wayan Juniartha, dan sutradara film dokumenter Dr Lawrence Blair.

Adapun kelima film dokumenter yang dinominasikan adalah ‘Apa Kabar Potehi’ karya Ari Mandrofa, ‘Jamu Laut’ karya Tengku Ryo, ‘Tumiran’ karya Vicky Hendri Kurniawan, ‘Pesisir Harapan’ karya Dio Mei Rilki dan ‘Bernie Meraung’ karya Agung S Rukotomo.

Film-film dokumenter itu akan diputar kepada publik pada 19-23 Agustus di kampus Stikom, Denpasar, bersama dua film dokumenter tamu, yaitu ‘Segores Harapan dari Balik Kaca’ karya Dwi Sujanti Nugraheni dan ‘In My Father Country’ karya Tom Murray.

Selain film dokumenter untuk kategori umum, DFF juga melombakan untuk kategori pelajar yang diikuti oleh siswa SMA se-Bali. Lima nominasi film dokumenter yang dipilih, yaitu ‘Ekstra Pemulung’ karya SMA 3 Denpasar, ‘Kami Bukan Peminum Liar’ karya SMK PGRI Amlapura, ‘Masih Ada Asa’ dari SMA 3 Denpasar, ‘Merah Putih’ karya SMKN 2 Seririt dan ‘Segores Harapan dari Balik Kaca; karya SMAN 1 Banjar, Buleleng.

“Kita harapkan publik dapat memberikan apresiasinya,” kata Direktur Festival DFF, Agung Bawantara.

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts