Lola Amaria Tak Khawatir Filmnya Negeri Tanpa Telinga Menuai Kontroversi

Lola Amaria Tak Khawatir Filmnya Negeri Tanpa Telinga Menuai Kontroversi

Lola Amaria tak khawatir filmnya ‘Negeri Tanpa Telinga’ menuai kontroversi lantaran berkisah tentang konspirasi dan korupsi di sebuah negeri. Sebuah genealogi korupsi yang melibatkan petinggi Partai Martobat dan Partai Amal Syurga. Film tersebut merupakan sebuah parodi politik yang terinspirasi dari banyaknya pejabat di negeri ini yang melakukan korupsi.

“Sebenarnya film ini terinspirasi dari banyaknya pejabat di negeri ini yang melakukan korupsi. Mereka dengan sengaja merampas uang rakyat dan mereka pergunakan untuk melegalkan kekuasaan tanpa memikirkan masyarakat kecil. Saya melakukan riset dan selalu mengikuti perkembangannya melalui media. Dari media pula saya melihat dan juga mendengar maka itu saya coba visualisasikan dalam bentuk parodi politik di film ini,” kata Lola Amaria saat jumpa pers di XXI Club Djakarta Theater, Lantai 2, Jl. MH Thamrin No. 9, Jakarta Pusat, Kamis (7/8).

Lebih lanjut, perempuan kelahiran Jakarta, 30 Juli 1977 itu menerangkan, bahwa media lebih berani dari filmnya. “Saya tahu fakta justru dari media, film itu beyond realita jadi saya berdasarkan fakta yang ada. Media ekspresi saya film, apa yang saya tulis itu semua saya tafsir dari apa yang saya lihat dan alhamdulilah film ini lulus sensor,” terang Lola.

Bagi peraih penghargaan ‘Netpac Award’ dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2006, film hasil karyanya bukan sekadar dagangan, tetapi menjadi arsip negeri ini. Menurut Lola, membuat film membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi proses pembuatannya yang tidak sebentar dan sulit. Inilah yang memacunya menciptakan film yang memiliki arti untuk sebuah perubahan.

“Saya mau film menjadi arsip negeri ini dan bukan sekedar bahan dagangan. Bikin film itu lama, mahal dan tidak mudah. Jadi sayang sekali dengan uang yang bermiliar miliar, pakai air mata, pakai darah, terus tiba-tiba penonton cabut dari bioskop,” katanya.

Lola menginginkan agar filmnya mampu dicerna dengan baik oleh semua lapisan masyarakat.
“Saya butuh riset yang panjang untuk menentukan alur ceritanya, juga membutuhkan waktu yang banyak pula untuk menentukan para pemainnya agar cocok dengan peran mereka di film ini. Namun hal yang terpenting adalah saya harap film ini mampu dicerna dengan baik oleh masyarakat dan dapat menjadi kontrol sosial apalagi film ini hampir sama dengan realitas yang ada di negeri ini. Meskipun sebenarnya yang terjadi lebih kejam dari film ini,” ungkapnya.

Dijelaskan pula oleh Lola, bahwa film yang berdurasi 109 menit ini merupakan apresisasi kegundahan sebagian masyarakat akan maraknya korupsi dan pelegalan kekuasaan yang selama ini dilihat di negara ini.

“Dalam film ini tidak menyebut nama maupun partai apapun. Biarlah asumsi masyarakat saja yang menjabarkan film ini. Namun yang jelas dalam film ini kami mencoba mengupas realita yang ada dimasyarakat dimana kedudukan tinggi itu rentan sekali dengan apa yang kita sebut korupsi dan skandal seks para pejabatnya,” tandasnya.

Film yang naskah skenario digarap Indra Tranggono ini berkisah tentang seorang tukang pijat keliling bernama Naga yang memiliki klien orang-orang papan atas seperti politikus, pengusaha dan jurnalis. Dari kliennya itu, Naga banyak mendengarkan kisah skandal mereka. Sampai akhirnya ia menceritakan semua skandal kepada seorang jurnalis yang membuat geger negeri tersebut. Ia pun banyak mendapatkan teror dan kekerasan fisik.

Sejumlah aktor dan aktris yang turut membintangi film ini adalah Ray Sahetapy, T. Rifnu Wikana, Kelly Tandiono, Jenny Zhang, Lukman Sardi, Landung Simatupang, Tanta Ginting, Eko Supriyanto, Maryam Supraba, Gary Iskak, Pasha Van Krab, dan Joko Kamto. Film ini akan tayang di seluruh bioskop Tanah Air mulai 14 Agustus 2014 mendatang. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts