Mark Harmon: Tiga Dekade

Mark Harmon: Tiga Dekade

Mark Harmon termasuk aktor yang konsisten berada di jalur akting. Sudah tiga decade dia wara wiri di layar kaca. Dan aktor yang pernah menjadi salah satu tokoh Sexiest Man Alive versi majalah People, tahun 1986 semakin matang saja.

Aksi terbaru Harmon adalah sebagai sebagai agen khusus Leroy Jethro Gibbs di serial NCIS. Aktingnya yang berkarakter berhasil mencuri perhatian pemirsa, bahkan serial ini sudah memasuki musim pemutaran yang ke-11.

“Kami mampu bertahan di sini karena kami tidak terlalu bagus untuk menarik perhatian semua orang, tetapi terlalu baik juga untuk untuk dihentikan,” ujarnya sambil tertawa. Ucapannya ini tentu bermaksud merendah, karena NCIS setidaknya ditonton oleh lebih dari 20 juta orang tiap minggu.

Kesuksesan Harmon sekarang tak lepas dari perjalanan panjang pria yang lahir 2 September 1951 ini menembus Hollywood. Ia sempat menjadi pemain football profesional semasa kuliah, lalu bekerja di agensi periklanan, bahkan sempat menjadi penjual sepatu untuk para atlet. Ia mulai menjajal dunia akting saat berkenalan dengan Jack Webb, pemain serial Dragnet, yang memberikannya posisi bintang tamu dalam serial drama Adam 12 (1968 -1975).

Wajah tampan dan tubuh yang atletis membuat dia dengan cepat mendapat tempat di dunia akting. Meski demkian, tetap saja Harmon harus melalui jalan berliku. “Tokoh yang saya mainkan tidak ada namanya. Kadang-kadang jadi polisi, kadang-kadang jadi petani,” tutur suami dari Pam Dawber ini kepada USA Today.

Setelah bermain dari satu opera sabun ke opera sabun lainnya, namanya mulai bersinar setelah berperan sebagai dokter bedah di serial drama St. Elsewhere musim kedua. Isu mengenai AIDS yang saat itu sedang hangat-hangatnya secara tidak langsung mengangkat pamornya. “Informasi mengenai AIDS ini sangat penting, karena pada masa itu AIDS hanya terkait dengan gaya hidup sekelompok tertentu, dan itu salah,” katanya, kepada Entertainment Weekly.

Kini menginjak usia 62 tahun, penampilannya masih terlihat prima. Hal itu tidak lepas dari gaya hidup sehat yang telah mendarah daging dalam dirinya. Diakuinya, jika dulu ia rutin berlatih di pagi hari semata-mata karena kewajibannya sebagai atlet, sekarang ia lebih bijak menyikapinya. “Saya mulai belajar untuk peduli pada diri sendiri. Mencoba makanan yang sehat dan istirahat cukup. Saya tidak melakukan hal yang sama ketika usia saya masih 20-an,” katanya lagi.

Jika dulu ia terbiasa berlari antara 90 km – 100 km tiap minggu, kini ia memilih pilates untuk menjaga kebugaran dan postur tubuh. “Sejak saya mengalami cedera pundak, saya dianjurkan untuk pilates. Dan ternyata ini dua kali lebih berat dibandingkan berlari!” tambah pria yang memilih menjadi tukang kayu jika tidak berakting ini. (berbagaisumber/SW)

About The Author

Stevy Widia memulai kariernya sebagai wartawan di Suara Pembaruan (1999-2010). Sejumlah penghargaan di bidang penulisan diperoleh untuk penulisan sejumlah artikel musik, film dan gadget, termasuk menjadi nominasi sebagai kritik film untuk Festival Film Indonesia 2005. Peraih penghargaan Anugerah Pesona Wisata Indonesia 2009 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata juga sempat dipercaya menjadi juri untuk MTV Music Award periode 2005-2006, dan Festival Film Jakarta 2006.

Related posts