Dawn of the Planet of the Apes : Sci-Fi yang Emosional

Dawn of the Planet of the Apes : Sci-Fi yang Emosional

Dawn of the Planet of the Apes menghadirkan fiksi lilmiah dengan visual luar biasa dan karakter yang menggugah emosi.

Film yang disutradarai Matt Reeves ini melanjutkan kisah 10 tahun setelah jatuhnya peradaban manusia (cerita di film Rise of the Planet of the Apes, 2011). Planet telah dikuasai oleh bangsa kera dibawah pimpinan alpha-simpanse bernama Caesar (Andy Serkin). Para kera pun berkembang dan berevolusi secara genetic bahkan mengembangkan sistem pendidikan di antara para kera.

Namun manusia yang dikira telah musnah tiba-tiba muncul kembali. Kelompok manusia yang dipimpin oleh Malcolm (Jason Clarke) berhasil selamat dari virus penghancuran dan tinggal di hutan. Pertemuan ini awalnya membangun ikatan antara dua spesies kerabat ini. Caesar menikmati kerjasama dengan manusia, namun rekannya Koba (Tobby Kebbell) secara naluriah tidak peraya pada manusia. Demikian juga degan Dreyfus (Gary Oldman) secara nalurian tidak mempercayai kera. Negosiasi perdamaian yang rapuh, berujung pada perebutan siapa species dominan.

Secara keseluruhan film ini semacam metafora kehidupan manusia dari era perbudakan, revolusi Afro-Amerika hingga penaklukan Eropa terhadap benua Amerika. Tema balas dendam, belas kasih, kesetiaan dan kemanusiaan disajikan dengan kompleks.

Para pemain, menghidupkan karakter manusia dan non manusia dengan sangat ekspresif dan penuh perasaan. Penampilan Andy Serkin sebagai Caesar begitu ekspresif, lengkap dengan mata lelah melihat penderitaan akibat perang sangat menyenangkan untuk ditonton. Demikian juga aksi Toby Kebbell dengan muka bekas luka dan mata yang menyiratkan dendam untuk menyingkirkan manusia selamanya. Hasil kinerga motion-captuter sangatlah luar biasa.

Di sisi lain karakter manusia sulit menyaingi itu. Oldman tidak mendapat cukup banyak porsi, demikian juga Clarke. Bahkan kerri Russell terkesan hanya sebagai pelengkap saja.

Secara keseluruhan film ini memberikan suguhan visual yang spektakuler dan canggih. Pengaturan hutan yang paska-apokaliptik San Fransisco yang kaya akan dietail dan suasana, serta urutan tindakan yang mendebarkan menjadikan film fiksi ilmiah ini terasa nyata dan layak untuk ditonton. (SW)

About The Author

Stevy Widia memulai kariernya sebagai wartawan di Suara Pembaruan (1999-2010). Sejumlah penghargaan di bidang penulisan diperoleh untuk penulisan sejumlah artikel musik, film dan gadget, termasuk menjadi nominasi sebagai kritik film untuk Festival Film Indonesia 2005. Peraih penghargaan Anugerah Pesona Wisata Indonesia 2009 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata juga sempat dipercaya menjadi juri untuk MTV Music Award periode 2005-2006, dan Festival Film Jakarta 2006.

Related posts