Warga Baduy Gelar Ritual Seba di Pendopo Kabupaten Lebak

Warga Baduy Gelar Ritual Seba di Pendopo Kabupaten Lebak

Warga Baduy yang tinggal di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, berdatangan secara berkelompok ke Kota Rangkasbitung untuk menggelar ritual Seba di Pendopo Kabupaten Lebak, Jumat (2/4). Sebuah ritual untuk mengungkap syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki yang mereka terima selama satu tahun dan menjalin silaturahmi dengan pemimpin daerah.

Dalam ritual tersebut, mereka antara lain menyerahkan hasil bumi, seperti di antaranya beras ketan, pisang, gula aren, petai, dan buah-buahan kepada Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya sebagai kepala pemerintah daerah.

Pimpinan Adat Tetua Baduy yang juga Kepala Desa Kanekes Jaro Dainah mengatakan tahun ini warga menggelar ritual Seba Gede.

“Kami setiap tahun wajib menjalin silaturahmi dengan Bapak Gede (Bupati) juga pejabat lainnya dengan acara ritual Seba,” ujarnya.

Lebih lanjut, Jaro menerangkan, bahwa Seba dilakukan turun-temurun sebagai bentuk kesetiaan terhadap kepala pemerintahan. “Selain itu, juga menyampaikan pesan kepada Bupati Lebak sebagai kepala pemerintah daerah,” kata Jaro.

Menurut Jaro, ritual tersebut dilakukan setelah warga Baduy menjalankan tradisi Kawalu, puasa selama tiga bulan dan menutup diri dari warga luar.

Adapun Kepala Bagian Umum Sekertariat Daerah Kabupaten Lebak Ahmad Agianto Tahir mengatakan pemerintah daerah mendukung warga Baduy menjalankan tradisi ritual mereka. “Kami akan memberikan pelayanan terbaik kepada warga Baduy yang menggelar perayaan Seba itu,” katanya.

Ritual Seba Gede tahun ini dihadiri sekitar 1.650 orang yang terdiri atas warga Baduy Penamping yang berpakaian serba hitam dan Baduy Dalam yang berpakaian serba putih.

Warga Baduy Dalam diperkirakan tiba di Rangkasbitung sekitar pukul 17.00 WIB karena mereka berjalan kaki sepanjang 36 kilometer untuk mencapai lokasi ritual. Mereka yang tinggal di Kampung Cibeo-Cikeusik dan Cikawartana hingga kini berpergian ke mana pun dengan jalan kaki karena adat melarang mereka menggunakan kendaraan.

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts