Tania Evans Siap Total di Dunia Seni Peran

Tania Evans Siap Total di Dunia Seni Peran

Muda, cantik, berbakat. Demikian predikat yang melekat pada diri Tania Evans. Seperangkat predikat yang memang dibutuhkan di dunia seni peran. Apalagi wajahnya indo selalu menjadi primadona pemeran utama di layar kaca maupun layar lebar. Tampaknya perempuan kelahiran 24 Juni 1998 dari pasangan blasteran Indonesia-Australia Fika Stania-Dennis Evans ini sangat siap untuk total terjun di dalam dunia seni peran. Buktinya begitu datang ke acara workshop film di Gedung Film langsung disodori sebuah peran serta-merta ia langsung menerima dan kemudian dengan mudah dapat memerankannya.

“Aku suka akting dan aku memang siap total di dunia seni peran, “ tutur Tania Evans kepada Moviegoers di sela-sela acara Workshop Film Pendek yang digelar Komunitas Penulis Skenario dan Sutradara Indonesia (KPSSI) di Gedung Film Jl. MT. Haryono Kav. 47-48 Jakarta Selatan, Sabtu, (22/3/2014).

Lebih lanjut, pemain sinetron ‘Monyet Cantik’ ini membeberkan kesukaannya pada film ‘Habibie & Ainun’ yang pernah ditontonnya, “Aku suka sekali film ‘Habibie & Ainun’. Filmnya bagus.. Ceritanya tentang kisah cinta sejati, bukan kisah cinta yang membosankan.”

Menurut Tania, film-film Indonesia sudah semakin bagus. Tania sangat mengapresiasi banyak film Indonesia yang mampu berbicara di berbagai ajang festival film internasional. Seperti film ‘Negeri di Bawah Awan’ garapan sutradara Ipong Wijaya terpilih sebagai nominasi 10 film terbaik di ajang Canada International Film Festival 2014 kategori Foreign Film Competition. “Aku suprise lho mendengarnya, “ tambahnya.

Ipong Wijaya melihat talenta pada diri Tania langsung menawarinya untuk bermain dalam sekuel film “Negeri di Bawah Awan” yang tempat shootingnya akan dilakukan di Papua. Tania tentu saja sangat senang dengan tawaran itu.

Ketika ditanya apa peran yang paling disukainya? Dengan enteng, Tania menjawab, “ Aku suka peran antagonis, seperti karakter judes dan galak karena itu bagiku lebih mudah untuk memerankannya.”

Tekadnya terjun ke dalam dunia perfilman mendapat dukungan dari kedua orang tunya. Oleh karena itu ia pun sekolah homescholling untuk mengantisipasi jadwal shooting film maupun sinetron striping. Darah seninya mengalir dari ayahnya yang suka mengoleksi lukisan. “Papaku suka datang ke acara-cara kesenian dan aku sering ikut. Papaku juga mengoleksi banyak lukisan di rumah, “ ungkapnya mantap.

Kemudian, ditanya lebih suka mana tinggal di Indonesia atau Australia? Tania menjawab lebih suka tinggal Indonesia. “Karena Indonesia itu lengkap, makannya murah-murah, orangnya baik-baik, tidak sombong-sombong, ramah-ramah, jadi aku betah, “ ucapnya dengan derai tawa yang renyah dan wajah yang sumringah.

Pembawaannnya memang supel, mudah bergaul, dan cepat akrab sehingga mudah berbaur dengan para peserta workshop film. Penggemar aktor dan penyanyi Afgan itu pun tidak canggung mencicipi hidangan nasi maupun makanan kecil seperti singkong, ubi, kacang Bogor yang disediakan panitia workshop film. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts