Review Film Luntang Lantung, Balada Pemuda Baru Lulus Kuliah

Review Film Luntang Lantung, Balada Pemuda Baru Lulus Kuliah

Apa yang dilakukan pemuda baru lulus kuliah? Sewaktu kuliah pusing-pusing untuk dapat menuntaskan urusan perkuliahan, tapi setelah lulus kuliah dihadapkan dengan urusan baru yang lebih pusing lagi, yaitu mencari kerja! Itulah tantangan yang dirasakan semua pemuda baru lulus kuliah, termasuk yang dialami Ari Budiman dalam film ‘Luntang-lantung’.

Cerita film ini berpusat pada tokoh utama bernama Ari Budiman, yang disadarinya sebagai nama yang pasaran. Namanya ada dimana-mana. Banyak orang yang namanya sama dengannya. Kesamaan nama ini menjadi perguncingan, tapi suatu saat nanti menjadi sebuah keberuntungan.

Kisahnya tentang Ari Budiman (Dimas Anggara) bersama dua sahabatnya, Togar Simanjutak (Lolox) dan Suketi (Muhadkly Acho), yang dihadapkan dengan urusan klasik setelah lulus kuliah, yaitu cari kerja. Suketi diterima, tapi Ari malah tidak, sementara Togar memilih untuk membuka bengkel.

Luntang lantung membuat Ari down. Tiur (Dhea Seto), adik Togar yang manis, terus memberi semangat. Hingga akhirnya Ari menerima kerja di Glory Oil. Ari mengira ini perusahaan minyak besar. Tak tahunya, hanya distributor oli yang dulunya toko bernama Oli Jaya. Jadilah ia menjadi seorang sales oli. Masuk bengkel keluar bengkel menawarkan oli jualannya.

Setelah mengalami sulitnya jadi sales oli, Ari dipanggil untuk mengisi posisi Manager IT. Ternyata, HRD perusahaan itu salah menghubungi orang. Seharusnya Ari Budiman yang lain. Kesalahan yang tidak disengaja ini dimanfaatkan oleh Ari. Baru kali ini kesamaan namanya membawa keberuntungan.

Sebagai Manager IT, kini Ari punya anak buah, gaji besar, ruang kerja, dan yang lebih penting lagi: gadis cantik bernama Bella (Kimberly Ryder) yang selalu menggodanya di kantor.

Tanpa disadarinya, semua itu membuat seorang Ari Budiman menjadi berubah. Tiur yang selama ini selalu mendampinginya, kemudian memilih pulang ke Medan. Persahabatan dengan Togar dan Suketi pun perlahan mulai menjauh. Hingga Ari Budiman kemudian harus memutuskan untuk mengembalikan hidupnya yang hilang. Ari meminta maaf pada kedua sahabatnya, dan kemudian bersama-sama pergi ke Medan.

Ada adegan yang sangat berkesan, seperti perlombaan bentor (becak bermotor) khas Medan dan kejar-kejaran bentor. Terakhir, mandi di Danau Toba untuk membuang kesialan.

Film ini sangat inspiratif. Ceritanya renyah dan ringan sehingga mudah dicerna. Kita pun dapat menikmati adegan-adegan komedi di dalamnya tanpa harus berpikir panjang. Tertawa bebas. Lepas. Sutradara Fajar Nugros berhasil menggarap film bergenre komedi dengan cukup baik. Nugros yang selama ini banyak menggarap film drama serius mampu membuat film ini lucu. Film ini memanjakan indra penglihatan kita dengan pemandangan elok nan rupawan. Nugros mampu menampilkan kota Medan dengan cantik nan menawan. Begitu juga Danau Toba, stasiun kereta api Medan sampai Bandara Kuala Namu. Semangat produksi film ini mengangkat potensi wisata daerah.

Akting Dimas Anggara cukup baik, meski ia baru pertama kali berperan dalam film komedi. Pasalnya, Dimas merasa dirinya bukan orang yang bisa melucu. Apalagi ia harus beradu akting dengan para stand up comedy-an; Ge Pamungkas, Muhadkly Acho MT, Lolox Medan dan Soleh Solihun. Juga komedian Joe ‘P Project’ Terlebih lagi, ia ditantang untuk berakting monolog dan berdialog dengan penonton. Begitu juga dengan akting Dhea Seto, meski ini debut film yang dibintanginya, tapi sebagai pendatang baru patut diapresiasi. Aktingnya mampu mencuri perhatian penonton. Adapun para pemain lainnya, terutama para stand up comedy-an memperkuat film ini sebagai film komedi.

Tak hanya menawarkan komedi segar, film ini juga menampilkan pesan-pesan moral yang ada di sekitar kita. Film ini mengajak kita untuk menghargai kerja yang kita miliki. Apa pun pekerjaan yang kita lakukan harus dilakukan dengan semangat. Karena sesusah-susahnya bekerja, lebih susah orang yang tidak bekerja. Film ini sangat tepat bagi para pemuda yang baru lulus kuliah, yang belum kerja maupun yang sudah bekerja.

Film produksi MMA Pictures yang diadaptasi dari novel komedi laris berjudul sama karya Roy Syahputra, dan kemudian disempurnakan oleh penulis skenario Alim Sudio (99 Cahaya di Langit Eropa), ini dapat disaksikan di bioskop mulai 8 Mei 2014. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts