Kenang Tragedi Mei, Komnas HAM dan Forum Lenteng Putar Film Marah di Bumi Lambu

Kenang Tragedi Mei, Komnas HAM dan Forum Lenteng Putar Film Marah di Bumi Lambu

Komnas HAM dan Forum Lenteng memutar film dokumenter ‘Marah di Bumi Lambu’ pada Senin (12/5/2014) pukul 19.00 malam di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pemutaran film arahan sutradara Hafiz Rancajale ini diniatkan sebagai acara untuk mengenang Tragedi Mei dan Reformasi 1998.

Seusai pemutaran, sutradara Hafiz Rancajale menerangkan, tentang kekayaan elemen dokumentasi yang dituangkan dalam film. Potongan dan gabungan elemen ini merangkai sebuah keutuhan penggambaran dalam film yang menceritakan tragedi di Lambu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Memasukan penggambaran yang sekilas tampak minim editing ini pun beralasan. “Tidak ada satupun dalam film yang kita mengadegankan, semuanya kita rekam dan kita ajak teman-teman untuk ngobrol. Jadi prinsipnya itu,” terang Hafiz.

“Memang kadang-kadang kita sulit untuk menerima ini, karena kita terbiasa dengan pola editing yang cepat, penyusunan yang cepat. Karena kita adalah masyarakat televisi dan televisi selalu memberikan sesuatu yang cepat dan instan,” tambahnya.

Dengan penyajian gambaran keseharian masyarakat di desa Lambu dan bagaimana peristiwa tragedi itu masih segar diingatan mereka, Hafiz berharap masyarakat bisa menjadikan ini bahan telaah yang lebih jauh.

“Jadi ketika kita hadirkan sisi manusia, dengan perekaman nyata yang coba kita hadirkan mungkin butuh waktu atau durasi lebih panjang kalau kita ingin bagaimana masyarakat di sana sebenarnya. Di sini kalau kita berikan lebih, masyarakat jadi bisa mengobservasi lebih jauh soal itu,” ujarnya.

‘Marah di Bumi Lambu’ berkisah tentang kenangan masyarakat Lambu, Bima pada peristwa Tragedi Sape Lambu 2012 yang menelan tiga korban dari pihak warga. Tragedi ini berawal dari rencana pemerintah daerah Kabupaten Bima mengubah kawasan Lambu menjadi daerah pertambangan dengan menerbikan izin usaha pertambangan kepada pemilik modal. Terjadi penolakan oleh warga yang diorganisir oleh mahasiswa. Penolakan itu dilakukan dengan aksi-aksi demonstrasi yang pada akhirnya menelan korban di pihak warga akibat kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Film ini mencoba merekam kenangan masyarakat tentang rangkaian peristiwa tragedi itu sendiri, rangkaian cerita-cerita kemanusian dan mimpi-mimpi mereka tentang tanah leluhurnya.

Belum terselesaikannya tragedi Mei dan munculnya konflik Bima dianggap sebagai penanda walaupun telah 16 tahun reformasi namun perjuangan untuk adanya penghormatan, perlindungan dan pemenuhan HAM di Indonesia masih perlu terus dilakukan.

Film ini mengangkat tema soal hak atas tanah untuk menunjukkan bahwa konflik tanah berada dalam posisi paling atas dari permasalahan yang diadukan oleh masyarakat. Dokumenter konflik di Lambu Bima ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada publik dan stakeholder bagaimana masyarakat memperjuangkan hak mereka dan bagaimana aparat menyikapi warga yang memperjuangkan haknya tersebut.

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts