Review Film Dokumenter Jalanan. Balada Tiga Pengamen Ibukota

Review Film Dokumenter Jalanan. Balada Tiga Pengamen Ibukota

Fenomena mengamen di Jakarta memang menarik untuk diceritakan. Tentang balada lika-liku hidup tiga pengamen jalanan Jakarta, yaitu Boni, Ho dan Titi. Ada rasa kesepian, duka kematian, dorongan seksual, meriah perkawinan, kisruh perceraian, nelangsa masuk bui, gemuruh reformasi, gempuran globalisasi; serbaneka pahit-manis-asin-getir-garing keseharian mereka diungkap polos layaknya potret kaum tersisih, fenomena amat khas bernama Indonesia, disuguhkan gamblang telanjang. Berangkat dari fenomena ini Daniel Ziv membesut film dokumenter ‘Jalanan’ yang membeberkan keseharian tiga pengamen ibukota bernama Boni, Ho, dan Titi. Tapi film ini tidak dibuat untuk menuai belas kasihan penonton, justru kekaguman melihat kaum marjinal memperjuangkan hidup di tengah beratnya kehidupan ibukota.

Kisahnya tentang Boni yang sejak kecil tinggal di jalan menikmati kolong jembatan sebagai persinggahan bersama keluarganya. Banjir langganan di Jakarta kerap membuatnya kalang kabut saat debit air bertambah. Toh dia tetap bisa mengakali dan mengubahnya seakan kolong jembatan adalah hotel pribadinya. Boni yang walau tak bisa membaca dan menulis adalah figur pejuang jujur sekaligus artistik.

Kemudian, ada lagi Ho yang berambut gimbal ingin menikmati hidup dengan cinta. Beberapa perempuan singgah di kehidupannya sampai ia bertemu dengan orang yang resmi menjadi istrinya. Ho memang masih kalah secara ekonomi namun sudah menang secara pengalaman dan intelektual dalam menyiasati ibukota.

Terakhir, tentang Titi, seorang perempuan pengamen yang mengumpulkan lembar uang untuk masa depan anaknya juga keluarga di kampung. Perempuan yang sering memilih lagu religi sebagai tembang andalan mencari rezeki di dalam angkutan umum itu juga tetap bersemangat melanjutkan pendidikan dan mendapatkan ijazah kelulusan paket C. Titi, bukan cuma senyum lugunya membikin pingsan, ia merupakan wanita Indonesia pemberani: bisa dihitung dengan jari jumlah perempuan yang nekat menjadi pengamen.

Ketiga orang itu juga berbagi musik yang menjadi soundtrack film dokumenter ini melalui adegan-adegan mengamen atau mendendangkan syair ciptaan sendiri, dari lagu nyeni hingga sentilan politik. Selain Ho, Titi, dan Boni, sejumlah musisi juga berkolaborasi untuk mengisi musik “Jalanan”, seperti Franky Sahilatua, Luky Annash, Cozy Streer Corner, Thanding Sari dan Tika.

Film ini sangat inspiratif. Sutradara Daniel Ziv tampak begitu jeli mengangkat fenomena pengamen di Jakarta yang memang menarik diceritakan. Selama dua bulan ia mengadakan audisi rahasia dengan turun-naik angkutan umum dan mencari pengamen-pengamen berkarakter kuat demi menghasilkan film dokumenter yang menghibur dan tidak membosankan sampai dia bertemu dengan ketiga orang itu. Ziv menghabiskan waktu hampir lima tahun lamanya dengan terjun ke gorong-gorong bawah jembatan, berlama-lama menongkrongi para tokoh utama, menyusup hingga ke pedesaan Jawa, tanah asal mereka; semata agar dapat menangkap berbagai momen kehidupan Boni, Ho dan Titi.

“Saya merasakan mereka punya karakter kuat yang bisa loncat dari layar lebar dan berinteraksi dengan penonton,” kata sutradara Daniel Ziv.

Lebih lanjut, Ziv menerangkan, semua yang ada dalam film merupakan kenyataan tanpa ada rekayasa skenario sehingga butuh lima tahun untuk merekam keseharian Boni, Ho, dan Titi.
“Sejak awal kami sepakat semua riil. Ga ada skenario. Terserah mereka mau ngapain aku ngikutin aja,” papar Ziv yang mengaku sulit menyulap 250 jam rekaman menjadi film berdurasi 107 menit saja.

Apa yang dilakukan para pengamen itu, apakah itu mengikuti ujian, ditangkap satpol PP dan dibui di Panti Sosial, menghias kolong jembatan atau melamar kekasih di warung Padang, diabadikannya lewat kamera.

Ziv berharap film ‘Jalanan’ dapat mengubah stigma film dokumenter di Indonesia yang dianggap membosankan dan menggurui karena film ini menawarkan plot menarik yang seru sebagai antitesis dari tayangan di televisi Indonesia yang biasa memotret kehidupan orang kaya yang ditonton oleh masyarakat kelas bawah.

“Sementara Jalanan mengisahkan kehidupan orang pinggiran yang ditonton kelas menengah ke atas di bioskop dan ini eksperimen menarik,” pungkasnya.

Film yang memenangkan Best Documentary di ajang festival film terbesar di Asia, yakni Busan International Film Festival 2013 itu juga didukung oleh Ernest Hariyanto (editor), Meita Eriska (sound recordist), Levy Santoso (sound design and mixing) dan gitaris band Navicula Dadang SH Pranoto (music scorer). Film ini mulai tayang di tiga bioskop Jakarta, yaitu Plasa Senayan, Blok M Square dan Grand Indonesia pada 10 April 2014. Rencananya film ini juga akan dibawa ke beberapa daerah, seperti Yogyakarta, Makassar, dan Bali. (Akhmad Sekhu)

About The Author

Akhmad Sekhu adalah wartawan Moviegoers dan juga sastrawan. Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal dan alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, artikel arsitektur-kota, film, TV, musik, buku biografi, dll. Prestasi: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Film Laura & Marsha (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak Kompasiana (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014). Menjadi Tim Penulis Buku Ensiklopedi Gubernur DKI Jakarta (Yayasan Biografi Indonesia, 2012), Tim Buku dan Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, penulis buku Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 di Biak-Papua, Tim Buku dan Humas Usmar Ismail Awards (UIA) 2016, penulis buku FFI 2016, dll. Novelnya “Jejak Gelisah” (2005) diterbitkan Grasindo (Gramedia Group). Kini sedang menyiapkan “Kitab Cinta Film Indonesia”.

Related posts