Romantika Para Pengumbar Teror

Romantika Para Pengumbar Teror

Film Jerman ini berangkat dari kisah nyata yang ditulis Stefan Aust tentang lahirnya kelompok teroris The Red Army Faction (RAF).Film ini menampilkan sisi menarik dari kelompok teroris menarik dan popular di kalangan anak muda Eropa. Ada romantika, kekejaman sekaligus histeria dari para pengubar teror itu.

Kelompok radikal ini lahir di akhir 1960an saat Jerman baru saja memulai proses demokrasi. Negeri ini bergolak akibat protes para aktivis mahasiswa akibat dukungan pemerintah terhadap AS yang kala itu tengah melakukan invasi ke Vietnam. Aksi protes ini berujung pada kerusuhan, setelah seorang mahasiswa tewas tertembak.

Dibawah komando Andreas Baader (diperankan Moritz Bleibtreu), Ulrike Meinhof (Martina Gedeck) dan Gudrun Ensslin (Johanna Wokalek) gerakan protes itu pun berkembang menjadi kelompok revolusinoer bawah tanah. Kelompok ini tak lagi sekadar demonstrasi tetapi mulai melakukan serangan terhadap pemerintah.

Awalnya hanya membakar pusat perbelanjaan. Namun setelah pelarian ke Afganistan, gerakan mereka semakin radikal. Mereka merampok, menculik, membunuh bahkan meledakkan tempat-tempat strategis dan menimbulkan banyak korban. Film ini tidak konvensional. Gaya penyajiannya memadukan sinematografi yang apik dengan gambar-gambar documenter.

Cara bertuturnya juga sangat eksplisit, dan apa adanya dalam menampilkan gambar-gambar keras, panas dan penuh emosi. Penonton dapat merasakan tensi adegan yang terus meningkat, baik kekerasan kaum RAF, maupun paranoia pemerintah dan berakhir pada hysteria ke diri sendiri dari mereka yang terlibat di dalamnya.Hanya saja film ini menghadirkan begitu banyak tokoh di luar trio itu. Tokoh-tokoh ini kurang ditampilkan mendalam.

Padahal keberadaan mereka cukup penting. Namun karena karakter mereka tidak kuat sehingga kehadiran mereka malah membingungkan. Padahal beberapa dari mereka yang kemudian melakukan aksi yang lebih lagi, termasuk ikut membajak pesawat Lufthansah Flight 181. Meski demikian pujian kepada tiga aktor utama karena mampu menghidupkan karakter mereka dengan kuat.

Masing-masing mampu menarasikan kehidupan tokoh yang diperankan dengan sangat manusiawi. Seperti bagaimana Ulrike yang seorang jurnalis intelek, bisa ikut dalam gerakan teroris bahkan sampai rela meninggalkan suami dan kedua anaknya namun kemudian menyesali keputusannya itu. Atau Gudrun yang berasal dari keluarga rohaniawan memilih jadi teroris untuk mencapai idealismenya sampai mati. Dan tentu saja Andreas, sang pemimpin yang romantis, pecinta ulung namun sekaligus emosional, keji dan tanpa penyesalan.

Memang tidak semua orang siap menonton semi documenter semacam ini. Namun dari film ini sedikitnya dapat menjadi bahan diskusi mengenai paham terorisme. Benarkah propaganda teroris adalah untuk mengisi kebutuhan mereka yang menolak otoritas. Selain itu, kisah ini menunjukan bagaimana sebuah idealime bisa menjadi begitu ekstrim hingga mampu melakukan tindakan yang radikal. Bagaimana mereka yang meneriakkan protes terhadap hilangnya rasa kemanusiaan ternyata malah kehilangan rasa kemanusiaan itu sendiri.

Film : The Baader Meinhof Complex
Sutradara : Uli Edel Skenario : Stefan Aust, Uli Edel
Bintang : Martina Gedeck, Moritz Bleibtreu, Johanna Wokalek, Nadja Uhl, Stipe Erceg
Produksi/Distribusi : Constantin Film

About The Author

Related posts