Kisah Manusia Dalam Selokan

Kisah Manusia Dalam Selokan

Dalam 2,5 jam film ini mengisahkan kehidupan sekelompok orang Yahudi yang hidup di dalam gorong-gorong kota yang gelap dan bergantung pada sekelompok pencuri demi bertahan hidup dari pemusnahan massal. Ini berdasarkan kisah nyata yang terjadi di kota lLvov, Polandia selama Perang Dunia II. Dan berkat sutradara veteran Agnieszka Holland, film ini bukan film bertema Holocaust biasa.

Agnieszka yang dikenal lewat filmnya Europa,Europa menghadirkan gaya penyutradaraan yang tidak memihak. Dia berhasil menyampaikan cerita yang ditulis David Shamoon itu dengan jujur dan apa adanya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi, termasuk yang mengerikan seakan berbicara sendiri untuk dinilai sendiri oleh penonton. Satu lagi fokus film ini bukanlah pada orang-orang Yahudi tetapi malah pada mereka yang anti-semitic, orang-orang Katolik yang kemudian secara tidak terduga menjadi penyelamat. Karakter yang ada dalam film berada di ranah abu-abu. Masing-masing memiliki paham, dan kepentingan tersendiri.

Ada Leopold Socha (aktor ternama Polandia Robert Wieckiewicz) inspektur saluran pembuangan Lvov yang menjadi tempat persembunyian orang-orang Yahudi. Sesungguhnya Socha tidak bersimpati pada orang Yahudi. Ia mau membantu mereka dan menyembunyikan dalam saluran itu karena ada bayaran. Dia bahkan merencanakan untuk kemudian kelak menjual mereka ke pihak Jerman bila mendapat tawaran yang lebih menguntungkan. Lalu ada Ignacy (Herbert Knaup) yang meyakini orang yang pandai berbahasa Jerman adalah kaum intelek. Namun mendapat mimpi buruk setelah menyaksikan kekejaman yang dilakukan orang yang dikaguminya.

Sementara dari pihak Yahudi yang menonjol ada Mundek (Benno Furmann) pemimpin kelompok Yahudi, dan saudaranya Kalara (Agnieszka Grochowska) yang selalu curiga pada orang Polandia yang menolong mereka. Pilihan menolong atau ditolong itu sama-sama sulit. Yang membuat In Darkness terlihat lebih realistis dan kuat, karena Holland membuat semua karakater berbicara dengan bahasa ibu mereka, Polandia, Yiddish, Jerman dan Ukraina sehingga saling tidak memahami.

Itu menggarisbawahi kompleksitas situasi etnik di Polandia kala itu. Film ini juga jujur menunjukkan bagaimana permusuhan dan konflik yang terjadi di antara sesama orang Yahudi kala mereka di atas tanah, itu terbawa hingga ketika di bawah tanah, dalam selokan dan menambah keputusasaan.

Dengan gamblang film ini memaparkan bagaimana manusia-manusia yang hidup di dalam kegelapan mencari sudut ternyaman, berharap untuk bertahan hidup dan bahkan mungkin mengubah penderitaan orang lain ke dalam keuntungan yang lumayan. Sampai akhirnya manusia yang rapuh itu berpacu dengan keajaiban.

Meskipun Holland dikenal dengan film-film panjang Eropa , dia juga sempat menyutradarai beberapa episode film HBO The Wire dan itu membuat dia mampu mengontrol film ini tetap dalam alur yang tepat. Kerjasama dengan sinematografer Jolanta Dylewska, produksi desainer dan editor Erwin Prib Michal Czarnecki membuat Holland dapat menciptakan kembali dunia bahwa tanah seperti yang dikisahkan Krystyna Chiger dalam bukunya Green Sweater yang menjadi inspirasi film ini.

Film In Darkness ini didedikasikan untuk pemimpin kaum Yahudi legendaries dari Ghetto Warsawa Marek Edelman dan kepada lebih dari 6.000 orang Polandia yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyelamatkan kaum Yahudi. In Darkness menunjukkan kepada kita bagaimana luar biasa pilihan itu.

About The Author

Related posts